Ambon | Maluku.Neweline.id – Angklin Ahwalam, salah satu mahasiswa Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), melayangkan kritik keras terhadap kinerja Senat Mahasiswa Universitas (SMU) UKIM periode 2025 yang dipimpin oleh Daud Seli. Ia menilai kepengurusan SMU selama satu tahun terakhir “gagal total” karena program kerja tidak berjalan, komunikasi organisasi amburadul, serta tidak adanya transparansi pengelolaan keuangan.
Menurut Angklin, hampir seluruh janji kerja yang disampaikan saat pelantikan hanya menjadi wacana tanpa realisasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Program-program yang mereka janjikan tidak ada satu pun yang terlihat hasilnya. Kami sebagai mahasiswa sama sekali tidak merasakan kehadiran SMU UKIM selama setahun ini. Mereka seperti organisasi yang mati suri. Ini benar-benar mengecewakan!” ujarnya dalam pernyataan tertulis.
Ia juga menyoroti ketidakjelasan pengelolaan dana organisasi.
“Kami tidak tahu kemana perginya uang yang dikelola SMU UKIM. Tidak ada laporan, tidak ada penjelasan, tidak ada transparansi. Ini sangat janggal dan menunjukkan betapa buruknya tata kelola organisasi di bawah kepemimpinan mereka,” tegas Angklin.
Bandingkan dengan Periode Sebelumnya
Dalam kritiknya, Angklin turut membandingkan kinerja kepemimpinan Daud Seli dengan periode sebelumnya yang dipimpin Angelo Koiyanan.
“Pada masa Angelo, SMU UKIM itu aktif, responsif, dan terbuka. Setiap kegiatan terdokumentasi, laporan keuangan jelas, dan mahasiswa merasa dilibatkan. Tapi sekarang semuanya hilang. Di bawah Daud Seli, SMU UKIM seperti berjalan tanpa arah. Kami tidak tahu apa yang sebenarnya mereka kerjakan selama ini,” ungkapnya.
Faktor-Faktor Kegagalan Menurut Angklin
Angklin menguraikan sejumlah faktor yang menurutnya membuat SMU UKIM periode ini terkesan berantakan, antara lain:
- Minimnya komunikasi internal antar-pengurus yang menyebabkan banyak kegiatan tidak berjalan.
- Tidak adanya rencana kerja yang jelas, terstruktur, dan diumumkan kepada mahasiswa.
- Pengelolaan keuangan yang menurut mahasiswa tidak transparan dan tanpa laporan resmi.
- Lemahnya partisipasi mahasiswa akibat kurangnya inisiatif dan kegiatan dari SMU.
- Tidak adanya evaluasi berkala atas program-program yang direncanakan.
“SMU itu bukan organisasi formalitas. Mereka seharusnya menjalankan amanah mahasiswa. Kalau tidak sanggup bekerja, seharusnya mereka mundur, bukan malah diam dan membiarkan organisasi ini lumpuh,” tambah Angklin.
Kritik Kepada Pihak Rektorat
Tak hanya kepada SMU, Angklin juga menyoroti kurangnya pengawasan dari pihak kampus.
“Pihak rektorat juga harus bertanggung jawab. Mereka yang melantik pengurus, tapi tidak mengawasi kinerjanya. Kalau SMU tidak berjalan, itu berarti sistem pengawasan kampus juga bermasalah. Kami minta rektorat turun tangan dan segera mengevaluasi kepengurusan ini,” tegasnya.
Mahasiswa Tuntut Transparansi dan Perbaikan
Sejumlah mahasiswa yang sepakat dengan kritik Angklin mendesak agar SMU UKIM segera memberikan laporan kinerja dan laporan keuangan secara terbuka kepada mahasiswa sebagai bentuk pertanggungjawaban.
“Kami tidak akan diam. Kami akan terus menuntut transparansi, meminta pertanggungjawaban, dan memastikan SMU UKIM dibenahi. Kami ingin organisasi mahasiswa berjalan profesional, bukan sekadar nama tanpa kerja,” tutup Angklin. (QH)
Editor : Eston Halamury










