MALUKU/MALUKU UTARA | Maluku.Newsline.id | Ambon, 01 November 2025 – Keluarga Kopda Muhammad Arwan Suat, anggota Koramil 1510-03/Sanana, Maluku Utara, meminta pihak POMDAM XV/Pattimura dan Polda Maluku Utara melakukan penyelidikan independen terkait kematian almarhum. Permintaan ini muncul karena keluarga menilai sejumlah aspek kematian penuh kejanggalan dan prosedur yang dijalankan kurang transparan.
Pemberitahuan resmi mengenai meninggalnya Kopda Arwan disampaikan melalui Koramil 1510-03/Sanana kepada orang tua dan keluarga yang berdomisili di Desa Batu Merah, Kota Ambon. Namun, keluarga menyatakan kesulitan menghubungi istri almarhum, karena panggilan telepon dan pesan yang dikirim tidak direspons, menimbulkan tanda tanya soal keterbukaan informasi dari pihak militer.
Ketua Ikatan Mahasiswa Elat (IME), Fahry Abean, menegaskan bahwa keluarga menuntut kepastian fakta. “Kita ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jika kematian memang karena sakit atau sebab wajar, mengapa keluarga tidak diberi kesempatan melihat almarhum terakhir kali?” ujar Fahry.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Proses pemakaman yang berlangsung di Sanana tanpa kehadiran anggota keluarga inti menimbulkan kekhawatiran tambahan. Keluarga menilai hal ini melanggar etika kemanusiaan dan prinsip keterbukaan dalam institusi militer, di mana komunikasi yang jelas kepada keluarga seharusnya dijadikan prioritas.
Dari perspektif hukum dan tata kelola, kasus ini menunjukkan urgensi akuntabilitas dan transparansi di lingkungan militer. Prinsip Good Governance menekankan pentingnya lembaga negara bekerja secara profesional, terbuka, dan bertanggung jawab, terutama saat menyangkut nyawa seorang prajurit aktif.
Fahry Abean menambahkan, penutupan informasi dapat menimbulkan keraguan publik terhadap TNI. “Pembentukan tim investigasi independen lintas lembaga penting agar penyelidikan berjalan objektif dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa tuntutan keluarga bukanlah tuduhan terhadap pihak manapun, melainkan upaya memastikan keadilan dan transparansi. “Kami yakin TNI dan Polri mampu menegakkan integritas serta keterbukaan dalam setiap proses penyelidikan,” tambah Fahry.
Keluarga berharap semua langkah hukum dan prosedural dilakukan secara profesional. “Kami ingin POMDAM XV/Pattimura dan Polda Maluku Utara menindaklanjuti laporan ini dengan cepat agar misteri kematian Kopda Arwan dapat terungkap,” kata Fahry.
Dukungan juga datang dari sejumlah aktivis dan organisasi masyarakat di Ambon, yang menekankan hak keluarga untuk memperoleh informasi jelas harus dihormati, meski almarhum berstatus anggota militer aktif.
Pertanyaan utama tetap mengenai penyebab pasti kematian Kopda Arwan. Hingga saat ini, informasi resmi dari pihak militer maupun kepolisian masih terbatas, sehingga berbagai pihak mendesak agar investigasi dilakukan secara bebas dari tekanan eksternal.
Keputusan untuk membentuk tim investigasi independen dianggap sebagai langkah penting untuk memastikan keadilan dan akuntabilitas. Langkah ini juga diharapkan dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi TNI dan Polri di Maluku Utara.
Keluarga almarhum menegaskan bahwa tujuan utama mereka adalah memperoleh kepastian dan ketenangan. Penanganan yang transparan diyakini akan membantu semua pihak, termasuk masyarakat, memahami proses yang dijalankan aparat keamanan. (KP)












