Ambon | Maluku.Newsline.id – Keluarga Victor Adam Parera menyampaikan klarifikasi sekaligus tuntutan keadilan atas dugaan salah tangkap dan fitnah yang disebut telah merugikan korban secara materiil maupun immateriil. Klarifikasi tersebut disampaikan melalui unggahan akun Facebook Trisia Parera sekitar 16 jam lalu.
Dalam pernyataannya, Trisia yang mengaku sebagai saudara kandung korban menegaskan bahwa pihak keluarga tidak bermaksud menyudutkan pihak tertentu, melainkan ingin membersihkan nama baik Victor dari tuduhan yang dinilai tidak berdasar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tujuan kami bukan untuk menyudutkan pihak tertentu atau meminta ganti rugi berupa uang, melainkan murni untuk membersihkan nama baik adik saya dari tuduhan tidak berdasar,” tulisnya.
Ia menjelaskan, keluarga mereka berasal dari latar belakang sederhana dan menjunjung tinggi nilai kejujuran. Victor, menurutnya, dikenal sebagai pribadi pekerja keras yang tengah berupaya mengumpulkan biaya untuk melanjutkan pendidikan.
“Adik saya justru sedang bekerja keras untuk melanjutkan kuliah, bukan seperti yang dituduhkan,” ungkapnya.
Berdasarkan kronologi yang disampaikan, peristiwa tersebut terjadi pada Senin, 13 April 2026 sekitar pukul 21.30 WIT. Saat itu, Victor didatangi sejumlah oknum aparat kepolisian di tempatnya bekerja dan dibawa untuk dimintai keterangan tanpa menunjukkan surat tugas resmi.
Victor kemudian diinterogasi selama kurang lebih dua jam dan dituduh sebagai pelaku pencurian karena dianggap memiliki kemiripan dengan sosok dalam rekaman CCTV. Keluarga juga menyebut adanya tekanan agar korban mengakui perbuatan tersebut.
“Adik saya dipaksa mengaku atas sesuatu yang tidak ia lakukan, bahkan rekan kerjanya ikut ditekan untuk memberikan kesaksian,” tulis Trisia dalam unggahan tersebut.
Meski tidak ditemukan bukti yang menguatkan tuduhan, keluarga menilai dampak sosial dari peristiwa itu telah meluas, terutama setelah informasi terkait “terduga pelaku” beredar di media sosial.
Atas kejadian ini, keluarga menuntut pemulihan nama baik serta meminta pertanggungjawaban dari pihak pelapor. Mereka juga menyoroti pentingnya penegakan hukum yang mengedepankan asas praduga tak bersalah.
“Kami hanya ingin keadilan dan berharap ada tanggung jawab untuk mengakui kesalahan jika memang terjadi kekeliruan,” tegasnya.
Peristiwa pencurian yang menjadi latar kasus ini diketahui terjadi di Desa Kobi, Kecamatan Seram Utara Timur, Kabupaten Maluku Tengah. Sementara Victor merupakan warga Desa Tanah Merah, Kecamatan Seram Utara Timur Seti.
Dalam kolom komentar unggahan tersebut, Trisia Parera juga menuliskan bahwa keluarga memiliki keinginan untuk menempuh jalur hukum yang lebih tinggi, namun terkendala biaya.
“Kami keluarga sangat ingin membawa hal ini ke ranah yang lebih tinggi namun oleh karena keterbatasan biaya sehingga hanya mampu meminta bantuan dari saudara-saudara di sosial media untuk memviralkan dan meng-up masalah ini, dan tentunya kami memohon terutama topangan doa dari basodara dong samua,” tulisnya.
Respon Warganet
Unggahan tersebut juga menuai beragam respons dari warganet di kolom komentar. Sejumlah pengguna media sosial menyampaikan kritik hingga keprihatinan atas dugaan peristiwa yang terjadi.
“Tindakan tra tau malu dan urat malu su putus. Sampe minta uang bensin dari korban. Knapa tdk minta dari pelapor. Talalu hati, miskin uang, miskin segalanya,” tulis akun Facebook mace Papua.
Komentar lain juga menyoroti perbedaan fisik antara korban dan sosok dalam rekaman CCTV. “Ktong yg seng kanal orang ini saja bisa tau ini orang beda sekali.. Astaga ee,” tulis akun Facebook thia ollshoop.
Selain itu, ada pula warganet yang menyinggung pentingnya prosedur identifikasi dalam penegakan hukum. “Seharusnya sebelum dilakukan proses penangkapan, harusnya dilakukan dulu proses identifikasi misalnya melalui sidik jari. Karena sekarang ini orang mau bikin SKCK atau KTP saja ada identifikasi sidik jari sebagai prosedur hukum supaya tidak ada salah tangkap yang menyebabkan kerugian seperti yang disampaikan di atas,” tulis akun Facebook haryantika prasetya.
Sementara itu, warganet lain juga menilai adanya perbedaan mencolok dari segi fisik. “Bentuk wajah, kening dan rahang saja sudah beda jauh sekali. Yang foto di atas alisnya tebal, sementara yang di bawah bentuk alisnya berbeda. Bagaimana bisa sama,” tulis akun Facebook Dwi Febriany.
Penulis : KB Ambon
Editor : KB Ambon






















