Warga Desa Hila Kembali Soroti Ketiadaan Sinyal Telkomsel, Pemda MBD Dinilai Gagal Menjawab Keluhan Bertahun-tahun

Kamis, 28 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: ilustrasi.

Foto: ilustrasi.

MBD | Maluku.Newsline.id – Keluhan mengenai ketiadaan tower dan jaringan Telkomsel di Desa Hila, Pulau Roma, Kabupaten Maluku Barat Daya, kembali mencuat ke publik. Kali ini, kritik keras disampaikan oleh Yulinda Pookey, warga asli Desa Hila, yang menilai pemerintah daerah gagal menjawab kebutuhan dasar masyarakat di bidang komunikasi dan internet.

Dalam unggahan media sosialnya, Selasa, (26/05/2026). Yulinda menyoroti kondisi Desa Hila yang hingga kini masih menjadi wilayah blank spot, sementara hampir seluruh desa lain di Pulau Roma telah menikmati akses jaringan telekomunikasi.

“Semua desa di Pulau Roma sudah punya tower atau sinyal Telkomsel, tetapi Desa Hila tidak punya,” tulisnya.

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, kondisi tersebut sangat memprihatinkan karena Desa Hila merupakan salah satu titik transit laut penting antarwilayah di Pulau Roma dan pulau-pulau sekitarnya. Namun ironisnya, desa tersebut justru masih tertinggal dalam akses komunikasi.

Keluhan itu bukan pertama kali disuarakan masyarakat. Sebelumnya, sejumlah mahasiswa asal Pulau Roma dan Desa Hila juga pernah menyampaikan persoalan serupa dalam berbagai forum dan media sosial.

Mereka meminta Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya serius memperjuangkan pembangunan tower telekomunikasi di wilayah tersebut.

Namun hingga kini, persoalan tersebut dinilai belum mendapat penyelesaian nyata.

Situasi itu memunculkan anggapan di tengah masyarakat bahwa Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya belum mampu menangani persoalan mendasar yang telah berlangsung bertahun-tahun, meskipun akses telekomunikasi kini menjadi kebutuhan vital masyarakat, terutama di wilayah kepulauan dan terluar.

Dalam unggahannya, Yulinda bahkan mempertanyakan perhatian pemerintah desa dan pemerintah kecamatan terhadap kebutuhan masyarakat.

“Apakah pemerintah tutup mata, mulut, dan telinga terhadap hal ini?” tulisnya.

Ia menggambarkan bagaimana warga harus keluar rumah pada malam maupun siang hari hanya untuk mencari titik jaringan internet. Sebagian masyarakat disebut harus duduk di bawah pohon, di emperan rumah warga, hingga di pinggir jalan demi mengakses komunikasi.

Tidak hanya itu, warga juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli voucher internet setiap hari agar dapat terhubung dengan keluarga maupun menyelesaikan pekerjaan.

Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap pelajar, guru, pelaku usaha kecil, penjual pulsa, hingga konten kreator pemula yang menggantungkan aktivitasnya pada internet.

“Warga kecil harus memutar otak untuk bertahan, sementara akses dasar seperti jaringan komunikasi saja belum bisa dinikmati dengan layak,” tulisnya lagi.

Yulinda juga menyinggung keberadaan layanan Starlink yang disebut dapat dinikmati di lingkungan pemerintah desa, sementara masyarakat umum masih kesulitan memperoleh akses internet yang stabil.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Desa Hila, Pemerintah Kecamatan Kepulauan Roma, Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya, maupun pihak Telkomsel terkait tuntutan masyarakat tersebut.

Persoalan ini kembali memperlihatkan tantangan serius pemerataan pembangunan infrastruktur telekomunikasi di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) di Maluku, yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Penulis : KB Ambon

Editor : KB Ambon

Follow WhatsApp Channel maluku.newsline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Letti Hijau Dimulai, Pemda MBD Bersama Mahasiswa Menyiapkan Penghijauan di Seluruh Desa
Pemda MBD Dukung Penuh Pengabdian GEMA MBD dan GML untuk Masyarakat Pulau Letti
GEMA MBD Dukung Groundbreaking Blok Masela, Siap Kawal Hak Masyarakat Lokal
Jam Belajar Siswa di Aru Dihentikan Saat Hujan, Guru Kuatir Sekolah Roboh
Dugaan Pungli Tunjangan Guru di SMPN 05 Ambalau Jadi Sorotan Publik
Speedboat Rute Sinairusi -Tepa Tenggelam, 7 Penumpang Masih Dalam Pencarian
Dukung Penegerian Sekolah Yayasan, Mahasiswa MBD: Pendidikan Investasi Peradaban, Bukan Ajang Konflik
Polemik Upah Proyek Pustu Oirleli di MBD, Pekerja: Tidak di Bayar Maka Akan di Jual Bagunan Ini
Berita ini 72 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 20:58 WIT

Letti Hijau Dimulai, Pemda MBD Bersama Mahasiswa Menyiapkan Penghijauan di Seluruh Desa

Rabu, 15 Juli 2026 - 20:52 WIT

Pemda MBD Dukung Penuh Pengabdian GEMA MBD dan GML untuk Masyarakat Pulau Letti

Kamis, 25 Juni 2026 - 10:59 WIT

Jam Belajar Siswa di Aru Dihentikan Saat Hujan, Guru Kuatir Sekolah Roboh

Kamis, 18 Juni 2026 - 10:47 WIT

Dugaan Pungli Tunjangan Guru di SMPN 05 Ambalau Jadi Sorotan Publik

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:11 WIT

Speedboat Rute Sinairusi -Tepa Tenggelam, 7 Penumpang Masih Dalam Pencarian

Berita Terbaru