AMBON | Maluku.Newsline.id – Gerakan Mahasiswa Maluku Barat Daya (GEMA MBD) menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan groundbreaking atau peletakan batu pertama Proyek Strategis Nasional (PSN) Lapangan Abadi Blok Masela yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Juli 2026.
Organisasi mahasiswa tersebut menilai dimulainya pembangunan proyek gas alam raksasa itu merupakan tonggak penting setelah melalui proses perencanaan selama puluhan tahun.
GEMA MBD berharap proyek tersebut mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Kabupaten Maluku Barat Daya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data proyek, Lapangan Abadi Blok Masela merupakan salah satu investasi energi terbesar di Indonesia dengan nilai investasi sekitar US$20,94 miliar atau setara Rp339–352 triliun.
Proyek ini memiliki cadangan gas terukur sebesar 6,97 triliun kaki kubik (TCF) dan ditargetkan mampu memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta kaki kubik gas per hari, serta 35 ribu barel kondensat per hari ketika mulai beroperasi penuh pada 2029.
Selama masa operasi hingga 2055, proyek tersebut diproyeksikan memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara hingga Rp2.135,8 triliun.
Ketua Umum GEMA MBD, Krisandi Petrik Laurika, menegaskan dukungan organisasinya terhadap proyek tersebut bukan tanpa syarat.
Menurutnya, seluruh tahapan pembangunan harus dilakukan secara transparan, adil, serta mengutamakan perlindungan hak dan kepentingan masyarakat lokal sebagai pemilik wilayah adat.
“Kami sadar betul betapa besarnya potensi Blok Masela bagi bangsa dan daerah. Proyek ini diprediksi akan menyerap hingga 12.611 tenaga kerja pada tahap pembangunan dan sekitar 850 tenaga kerja tetap pada tahap operasional. Namun angka-angka besar ini tidak boleh hanya menjadi milik pihak luar. Manfaatnya harus mengalir nyata ke rumah-rumah saudara kita di Maluku Barat Daya,” ujar Krisandi dalam keterangan tertulis yang diterima media, Senin (13/7/2026).
Menurut GEMA MBD, organisasi tersebut siap mengawal pelaksanaan proyek mulai dari tahap konstruksi hingga operasional dengan lima fokus utama.
Pertama, memastikan pemenuhan hak agraria masyarakat adat dan pemberian ganti rugi yang layak melalui musyawarah tanpa adanya paksaan maupun ketimpangan nilai kompensasi.
Kedua, mendorong prioritas penyerapan tenaga kerja lokal, termasuk target minimal 50 persen pekerja pada tahap konstruksi berasal dari masyarakat setempat serta peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan pendidikan.
Ketiga, memastikan pelaku UMKM, koperasi, dan pengusaha lokal memperoleh kesempatan menjadi bagian dari rantai pasok penyedia barang dan jasa sesuai kebijakan kandungan lokal yang tengah disusun pemerintah daerah.
Keempat, mengawal perlindungan lingkungan laut maupun daratan agar aktivitas proyek tidak mengganggu ekosistem yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat, khususnya nelayan dan petani.
Kelima, memastikan manfaat ekonomi proyek benar-benar dirasakan masyarakat melalui pengalokasian pendapatan daerah untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta program pemberdayaan masyarakat.
“Kami tidak menolak kemajuan, justru kami menginginkannya. Namun kemajuan itu tidak boleh datang dengan mengorbankan hak-hak dasar warga. Proyek ini harus menjadi bukti bahwa kekayaan alam daerah dapat dikelola dengan bijak dan adil bagi anak cucu kita sendiri,” kata Krisandi.
Di akhir pernyataannya, GEMA MBD mengajak pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola proyek INPEX bersama mitra Pertamina dan Petronas, serta seluruh elemen masyarakat untuk membangun sinergi dalam pelaksanaan proyek strategis tersebut.
GEMA MBD berharap pembangunan Blok Masela menjadi awal kemitraan yang setara, di mana masyarakat lokal tidak hanya menjadi pihak yang terdampak, tetapi juga menjadi mitra utama yang memperoleh manfaat dari pengelolaan sumber daya alam di daerahnya.
Penulis : KB Ambon
Editor : KB Ambon










