Tual, Maluku.Newsline.id | Pergeseran tanah yang terjadi sejak Kamis, 25 Juni 2025, di kawasan Finua Sermaf, Kota Tual, terus berlanjut hingga Sabtu, 28 Juni 2025. Kawasan hutan yang selama ini menjadi penyangga desa kini telah mengalami retakan dan pergeseran tanah aktif, dengan jarak longsor yang kian mendekat ke permukiman warga, hanya sekitar 600–700 meter.
Kondisi ini memaksa warga mengungsi secara mandiri. Sebagian besar telah berpindah ke rumah keluarga di Desa Tubyal dan ke kebun-kebun mereka yang lebih aman di wilayah Jalan Baru. Karena Sermaf berada di pulau terpisah dari Kota Tual, tidak tersedia akses darat ke lokasi, dan satu-satunya jalur yang memungkinkan hanyalah laut.
Di tengah kondisi darurat itu, sebuah peristiwa mengejutkan terjadi. Pada Sabtu sore, kamera milik warga yang sedang mendokumentasikan situasi di kawasan hutan longsor secara tidak sengaja menangkap gambar sosok misterius menyerupai manusia. Sosok tersebut tampak mengenakan pakaian putih, berjenggot hitam, dan terlihat seolah sedang berbaring tidur di atas tanah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Waktu kami ambil gambar, tidak ada orang di situ. Tapi saat kami cek di galeri HP, ada sosok seperti manusia tidur mengenakan baju putih. Jelas terlihat jenggotnya,” tutur salah satu warga Sermaf.
Penampakan tersebut memicu berbagai tanggapan dari masyarakat. Sebagian menganggapnya sebagai tanda alam, sebagian lainnya menilainya sebagai peringatan atau kehadiran spiritual yang tidak bisa dijelaskan secara rasional.
Sementara itu, Pemerintah Kota Tual dikabarkan telah merespons situasi ini. Rombongan dari Pemkot direncanakan akan menuju lokasi pada Minggu, 29 Juni 2025, menggunakan kendaraan laut jenis spit, karena hanya jalur laut yang memungkinkan untuk menjangkau wilayah terdampak.
“Kami sangat berharap kedatangan pemerintah tidak hanya untuk meninjau, tapi juga membawa solusi. Bantuan logistik dan langkah pencegahan sangat dibutuhkan,” kata salah satu tokoh masyarakat di lokasi pengungsian.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari BPBD maupun instansi teknis lainnya. Namun warga berharap kunjungan Pemkot Tual besok menjadi awal dari penanganan yang serius dan menyeluruh.
Musibah ini kembali mengingatkan bahwa bencana bukan hanya soal alam yang berubah, tetapi juga tentang bagaimana manusia memaknainya. Penampakan sosok putih di tengah hutan yang retak seolah menjadi simbol bisu—bahwa alam tidak hanya hidup, tapi juga bisa berbicara dalam cara yang tak terduga.
Editor | SS37 | Maluku.Newsline.id












