Oleh: Rifat, Mahasiswa Pancasarja Ilmu Politik.
Kenaikan biaya hidup dalam beberapa tahun terakhir semakin dirasakan masyarakat luas. Harga kebutuhan pokok seperti beras, listrik, bahan bakar, hingga biaya transportasi terus mengalami fluktuasi dengan kecenderungan meningkat, sementara kenaikan upah tidak berjalan seimbang. Kondisi ini membuat daya beli masyarakat, khususnya pekerja, semakin tertekan.
Ketimpangan sosial dinilai kian menguat seiring tidak seimbangnya pertumbuhan harga dan pendapatan. Bagi sebagian masyarakat, bekerja bukan lagi untuk meningkatkan taraf hidup, melainkan sekadar memenuhi kebutuhan dasar agar tetap bertahan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rasio gini Indonesia masih berada di kisaran 0,36 dalam beberapa tahun terakhir. Angka tersebut mencerminkan distribusi pendapatan yang belum merata, di mana kelompok berpenghasilan rendah hanya menikmati sebagian kecil dari total pengeluaran nasional.
Kondisi semakin terasa ketika kenaikan harga kebutuhan pokok tidak diimbangi dengan penyesuaian upah yang memadai. Harga bergerak mengikuti dinamika pasar global dan kebijakan energi, sementara kenaikan gaji cenderung stagnan. Akibatnya, kesenjangan antara kebutuhan hidup layak dan pendapatan masyarakat semakin melebar.
Fenomena ini juga dapat dilihat dari perspektif ekonomi politik, di mana ketimpangan cenderung terjadi ketika nilai yang dihasilkan pekerja tidak sebanding dengan imbalan yang diterima, serta ketika pertumbuhan kekayaan berlangsung lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Dampaknya tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Banyak keluarga dihadapkan pada pilihan sulit antara memenuhi kebutuhan dasar seperti tempat tinggal atau kebutuhan gizi. Selain itu, tidak sedikit pekerja yang mengalami kesulitan keuangan sebelum akhir bulan.
Tekanan ekonomi yang berkepanjangan turut berdampak pada kondisi sosial. Gangguan kesehatan mental, kerentanan dalam hubungan keluarga, serta meningkatnya rasa frustrasi menjadi konsekuensi yang dirasakan masyarakat. Dalam jangka panjang, situasi ini berpotensi memicu ketidakstabilan sosial jika ketimpangan terus melebar tanpa penanganan yang memadai.
Persoalan ini dinilai memerlukan perhatian serius, terutama dalam memastikan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Upaya seperti kebijakan upah yang lebih adil, perlindungan bagi pekerja informal, serta pengendalian harga kebutuhan pokok menjadi langkah yang dinilai penting untuk mengurangi tekanan ekonomi.
Pada akhirnya, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan kenaikan harga atau besaran upah, tetapi juga menyangkut keadilan dalam sistem ekonomi. Jika ketimpangan terus dibiarkan, bukan hanya kesejahteraan masyarakat yang terancam, tetapi juga kepercayaan publik terhadap sistem ekonomi secara keseluruhan.
Penulis : Eston Halamury
Editor : KB Ambon










