Ambon | Maluku.Newsline.id – Aula Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon sejak Sabtu sore, 25 April 2026, disulap menjadi ruang kerja tanpa henti. Persekutuan Anak Seram Universitas Kristen Indonesia Maluku (PANSER UKIM) sebagai wadah yang menghimpun anak-anak seram khususnya di UKIM, menggelar Rapat Kerja (Raker) I periode 2026/2027 yang berlangsung maraton selama 13 jam. Raker ini menjadi yang pertama bagi kepengurusan baru sekaligus forum paling krusial dalam menentukan arah organisasi selama satu tahun ke depan.
Ketua Umum PANSER UKIM, Mackael Rumawatine, S.H, dalam pembukaan Raker menegaskan urgensi perubahan menyeluruh dalam tubuh organisasi.
Ia menilai, selama ini PANSER cenderung hanya berfungsi sebagai wadah berkumpul tanpa sistem kerja yang terarah. Karena itu, ia mendorong transformasi menuju organisasi yang lebih produktif dan berdampak nyata bagi anggota.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Selama ini katong terlalu nyaman jadi tempat kumpul. Hari ini katong harus putus rantai itu. PANSER harus naik kelas jadi sistem yang kerja, bukan sekadar struktur yang ada,” ujar Mackael.
Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam kegiatan tersebut. Sebanyak 60 orang memadati ruangan, terdiri dari pengurus inti, demisioner, serta utusan dari berbagai paguyuban mahasiswa Maluku lainnya.
Kehadiran lintas paguyuban ini tidak hanya memberikan dukungan moril, tetapi juga menjadi sinyal bahwa persoalan mahasiswa rantau asal Seram membutuhkan pendekatan kolaboratif.
Raker kali ini dibagi ke dalam tiga agenda besar, yakni evaluasi kondisi riil anggota, perumusan program prioritas, dan penentuan skema pengawasan organisasi. Pada sesi perumusan program, Mackael memberikan penekanan tegas agar setiap usulan memiliki dampak langsung terhadap kebutuhan dasar anggota.
“Setiap usulan program wajib melewati tiga pertanyaan: apakah menyentuh perut, apakah memberi tempat tidur, dan apakah menambah keterampilan anggota. Kalau tiga itu tidak terjawab, coret dari daftar. Katong tidak punya waktu untuk rencana yang mengawang,” tegasnya.
Salah satu fokus utama dalam Raker tersebut adalah penyusunan blueprint kerja untuk 100 hari pertama kepengurusan. Dalam kerangka ini, setiap divisi diwajibkan memaparkan target yang bersifat kuantitatif, kebutuhan sumber daya, serta menetapkan satu penanggung jawab utama. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada lagi program yang berjalan tanpa kejelasan eksekutor.
Selain itu, pembahasan juga menyinggung pentingnya sistem pengawasan yang terstruktur guna menjamin setiap program dapat dieksekusi sesuai rencana. Transparansi dan akuntabilitas menjadi prinsip utama yang diusung dalam periode kepengurusan kali ini.
Mackael juga menegaskan ukuran keberhasilan organisasi yang berbeda dari sebelumnya. Ia menyebut capaian PANSER tidak lagi diukur dari aspek administratif semata, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan anggota, khususnya mahasiswa baru asal Seram yang datang ke Ambon.
“Satu tahun dari sekarang, beta mau ukur sukses bukan dari jumlah stempel yang keluar, tapi dari jumlah air mata anak Seram baru yang berubah jadi senyum karena ditolong PANSER di hari pertamanya di Ambon. Itu saja. Selebihnya omong kosong,” tandasnya.
Pembahasan di masing-masing komisi masih berlangsung alot. Setiap komisi diberikan waktu untuk menuntaskan draf program kerja mereka. Dinamika diskusi yang terjadi menunjukkan keseriusan peserta dalam merumuskan arah organisasi yang lebih terukur dan responsif terhadap kebutuhan anggota.
Hasil akhir Raker disahkan dan diketuk langsung oleh Ketua Umum yangberperan sebagai pimpinan sidang tepat. Setelah itu, keputusan yang dihasilkan akan diumumkan kepada seluruh anggota sebagai pedoman kerja resmi selama satu periode kepengurusan.
Sebagai bentuk komitmen terhadap keterbukaan, pengurus PANSER UKIM juga memastikan bahwa seluruh dokumen hasil Raker akan dibuka untuk umum. Dokumen tersebut direncanakan siap diaudit pada saat evaluasi tengah periode guna memastikan akuntabilitas publik tetap terjaga.
Penulis : AA
Editor : KB Ambon












