Tual, Maluku.Newsline.id — Sejak Rabu, 25 Juni 2025, tanah longsor melanda Pulau Kur, wilayah administratif Kota Tual, mengakibatkan kerusakan luas di lahan pertanian serta mengancam keselamatan warga. Hingga Sabtu malam, 28 Juni, belum ada penanganan serius dari Pemerintah Kota Tual, sementara kondisi di lapangan semakin memburuk.
Longsoran tersebut diperkirakan merusak lahan seluas 7 hingga 8 hektare, dengan ketinggian mencapai 9 hingga 10 meter. Lebih dari 600 pohon produktif — seperti kenari, pala, cengkeh, kelapa, dan sukun — tertimbun, dan 99 persen di antaranya dipastikan mati. Kehilangan ini menjadi pukulan berat bagi ekonomi warga Pulau Kur.
“Tanaman-tanaman itu bukan sekadar hasil bumi, tapi sumber hidup kami. Sekarang semuanya tertimbun tanah,” ujar seorang warga, Sabtu malam (28/6/2025), saat dihubungi redaksi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gerakan tanah yang terus terjadi kini mendekati kawasan permukiman di Desa Sermaf dan Desa Tubyal, membuat sebagian warga — terutama ibu-ibu dan anak-anak — mengungsi ke Jalan Baru, demi menghindari potensi longsor susulan yang lebih besar.
Bapak Gani Letsoin, tokoh masyarakat Pulau Kur, yang turut memantau situasi dari dekat, menyampaikan rasa prihatin dan keprihatinan atas belum hadirnya tindakan nyata dari pemerintah.
“Kami melihat sendiri bagaimana masyarakat berjaga di tengah ketidakpastian. Mereka hanya berharap pemerintah hadir secara nyata,” ucapnya.
Gani berharap Pemerintah Kota Tual segera mengambil langkah cepat dan konkret, termasuk mengirim tim peninjau ke lapangan, melakukan evakuasi darurat jika diperlukan, serta menyalurkan bantuan yang dibutuhkan oleh masyarakat terdampak.
“Jangan biarkan masyarakat berjalan sendiri dalam menghadapi bencana ini. Pemerintah harus hadir, karena inilah wujud tanggung jawab dan kepemimpinan yang sesungguhnya,” tutup Gani dengan nada penuh harap.
Narasumber : GL
Editor |SS37
Media : Maluku.Newsline.id












