36 Tahun Mengabdi, PPPK yang Hanya Menikmati Tiga Tahun Menjelang Pensiun

Kamis, 13 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BUANO SBB | Maluku.Newsline.id — Di balik gemerlap kemajuan pendidikan, ada kisah ketulusan yang jarang disorot. Salah satunya datang dari sosok sederhana, Ibu Guru Nahawiyah Tamalene, perempuan kelahiran 1968 yang telah mendedikasikan lebih dari tiga dekade hidupnya untuk dunia pendidikan di Pulau Buano, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku.

Sejak tahun 1989, Nahawiyah telah menapaki jalan panjang sebagai pendidik di daerah terpencil. Ia bukan sekadar guru, melainkan sosok ibu bagi anak-anak pulau yang haus akan ilmu. Dengan segala keterbatasan fasilitas, ia tetap teguh mengajar, mengabdikan waktu, dan tenaganya demi mencerdaskan generasi muda di pelosok Maluku.

Perjalanan panjang itu akhirnya mendapat pengakuan ketika pada tahun 2025, Nahawiyah resmi diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Namun, di balik rasa syukur atas status barunya, terselip kisah haru: masa pengabdiannya yang begitu panjang kini tinggal menyisakan tiga tahun sebelum memasuki masa pensiun.

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kisah ini mencerminkan realitas banyak tenaga pendidik di pelosok negeri yang telah mengabdi puluhan tahun tanpa kepastian status. Mereka tetap bekerja dengan penuh tanggung jawab meski tanpa jaminan kesejahteraan yang layak. Bagi Nahawiyah, pengangkatan sebagai PPPK bukan sekadar penghargaan, tetapi bentuk pengakuan atas pengorbanan yang telah ia berikan selama bertahun-tahun.

“Yang penting saya bisa terus mengajar dan bermanfaat untuk anak-anak,” begitu kira-kira prinsip hidup yang dipegang Nahawiyah. Dedikasinya tidak pernah berubah, meski status baru itu datang di ujung masa baktinya.

Menurut sejumlah rekan sejawat, sosok Nahawiyah dikenal sebagai guru yang sabar, disiplin, dan rendah hati. Ia kerap menjadi panutan bagi para tenaga pendidik muda yang baru mengabdikan diri di wilayah terpencil. “Beliau tidak pernah mengeluh. Walau jauh dari kota, semangatnya tetap seperti pertama kali mengajar,” ujar salah seorang rekan guru di Pulau Buano.

Kondisi pendidikan di Pulau Buano sendiri masih jauh dari kata ideal. Akses menuju sekolah kerap terhambat oleh cuaca dan transportasi laut yang terbatas. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah Nahawiyah untuk hadir setiap hari di kelas, menyapa siswanya dengan senyum dan semangat baru.

Selama 36 tahun mengajar, Nahawiyah telah melihat banyak muridnya sukses melanjutkan pendidikan dan kembali berkontribusi bagi kampung halaman. Ia percaya, perubahan besar berawal dari ruang kelas kecil yang dipenuhi semangat belajar. “Kalau anak-anak sudah mau sekolah, itu sudah kebahagiaan terbesar saya,” katanya suatu ketika dengan mata berkaca-kaca.

Pemerintah melalui kebijakan PPPK diharapkan dapat terus memberikan perhatian lebih kepada para guru senior seperti Nahawiyah. Pengangkatan mereka bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk penghargaan terhadap dedikasi yang telah menopang pendidikan di daerah tertinggal selama bertahun-tahun.

Masyarakat Pulau Buano pun mengaku bangga memiliki sosok seperti Nahawiyah. Bagi mereka, beliau bukan sekadar guru, tetapi juga bagian dari sejarah perjuangan pendidikan di pulau itu. Kehadirannya meninggalkan jejak inspirasi yang tidak akan pudar oleh waktu.

Kini, menjelang masa pensiun, Nahawiyah tetap memilih untuk menghabiskan hari-harinya di sekolah yang telah menjadi rumah keduanya. “Selama masih diberi kesehatan, saya akan terus mengajar,” ucapnya lirih namun penuh keyakinan.FB IMG 1762998007154

Sebuah pengabdian panjang yang layak dikenang—bukan hanya sebagai kisah seorang guru, melainkan sebagai cermin ketulusan abadi dalam dunia pendidikan Indonesia.

(KP)

Follow WhatsApp Channel maluku.newsline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

FH UKIM Raih Juara 2 Pada PATIMURA Moot Court Competition Piala Dekan III
SMIT Kecam Kriminalisasi Warga Adat Halmahera Utara, Nilai Negara Lebih Lindungi Investasi
Fakultas Hukum UKIM Rayakan Dies Natalis ke-6, Tekankan Integritas dan Semangat Orang Basudara
39 Siswa SMAN 38 Maluku Tengah Lulus 100 %, Kisah Dedikasi Guru di Balik Keterbatasan
Kadisdik Buru Selatan Diduga Minta Unggas dari Sekolah, Klarifikasi Masih Diupayakan
Potensi Besar, Akses Terbatas: Warga Taniwel Timur Harap Perbaikan Jalan Tani
IAKN Ambon Wisuda 97 Lulusan, Tegaskan Komitmen Bangun SDM Unggul dan Berdaya Saing
Sorotan Anggaran TP PKK SBB, Aldi: Jangan Bangun Opini Tanpa Data
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 01:00 WIT

FH UKIM Raih Juara 2 Pada PATIMURA Moot Court Competition Piala Dekan III

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:32 WIT

SMIT Kecam Kriminalisasi Warga Adat Halmahera Utara, Nilai Negara Lebih Lindungi Investasi

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:15 WIT

Fakultas Hukum UKIM Rayakan Dies Natalis ke-6, Tekankan Integritas dan Semangat Orang Basudara

Selasa, 5 Mei 2026 - 01:34 WIT

39 Siswa SMAN 38 Maluku Tengah Lulus 100 %, Kisah Dedikasi Guru di Balik Keterbatasan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 21:02 WIT

Kadisdik Buru Selatan Diduga Minta Unggas dari Sekolah, Klarifikasi Masih Diupayakan

Berita Terbaru