Hotong “Veten” dari Pulau Buru: Tradisi Panen yang Menyatukan Warga dari Generasi ke Generasi

Sabtu, 28 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pulau Buru | Maluku.Newsline.id — Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, masyarakat Pulau Buru masih menjaga sebuah tradisi pangan lokal yang sarat makna kebersamaan. Tumbuhan yang dikenal sebagai hotong atau disebut veten dalam bahasa Buru bukan sekadar bahan makanan, tetapi juga simbol kuat solidaritas sosial yang diwariskan turun-temurun.

Hotong (Setaria italica), sejenis serealia lokal, selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Pulau Buru. Namun, yang membuatnya istimewa bukan hanya nilai gizinya, melainkan tradisi yang menyertai proses panennya. Di kalangan masyarakat setempat, veten lazim dikonsumsi bersama-sama oleh keluarga maupun warga yang terlibat dalam panen. Momen ini menjadi ruang mempererat hubungan sosial sekaligus menjaga identitas budaya lokal.

Dalam praktiknya, panen veten tidak sekadar aktivitas pertanian biasa. Warga berkumpul, bekerja bersama di ladang, lalu menikmati hasilnya secara kolektif. Tradisi makan bersama inilah yang oleh masyarakat dipandang sebagai wujud nyata nilai persaudaraan yang hidup dalam budaya Buru.

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu pemuda asal Pulau Buru, Marsel Waemesse, menilai tradisi veten memiliki makna sosial yang sangat penting dan tidak boleh hilang ditelan zaman. Ia menegaskan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga warisan budaya tersebut.

“Harapan terbesar dari saya, generasi penerus tetap menjunjung tinggi rasa kebersamaan sebagai daya tarik tradisi yang kokoh dan unik serta perlu dilestarikan dari masa ke masa,” ujar Marsel.

Menurutnya, di tengah gaya hidup modern yang cenderung individualistis, tradisi panen dan makan bersama veten justru menjadi pengingat akan pentingnya nilai kolektivitas masyarakat Buru. Ia khawatir, tanpa upaya sadar dari generasi muda, tradisi lokal seperti ini bisa perlahan memudar.

Pengamat budaya lokal menilai, praktik sosial seperti tradisi veten memiliki potensi besar tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai daya tarik wisata berbasis kearifan lokal. Jika dikelola dengan baik, tradisi ini dapat memperkuat identitas daerah sekaligus memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.

Meski demikian, tantangan pelestarian tetap ada. Perubahan pola konsumsi, berkurangnya minat generasi muda terhadap pertanian tradisional, hingga minimnya dokumentasi budaya menjadi faktor yang dapat mengancam keberlanjutan tradisi ini.

Karena itu, berbagai pihak mulai dari tokoh adat, pemerintah daerah, hingga komunitas pemuda didorong untuk bersama-sama menjaga eksistensi veten sebagai bagian dari warisan tak benda masyarakat Pulau Buru.

Di tengah perubahan zaman, hotong atau veten membuktikan bahwa pangan lokal bukan sekadar soal kebutuhan perut, melainkan juga perekat sosial. Selama nilai kebersamaan masih dirawat, tradisi panen veten diyakini akan tetap hidup dan menjadi identitas kebanggaan masyarakat Buru. (*)

Editor : Eston Halamury

Follow WhatsApp Channel maluku.newsline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sempat Dilaporkan Rusak, Jalan Di Desa Skikilale Dibiarkan, Warga Terpaksa Menanggung Beban Sendiri
Akses Terputus, Warga Desa Skikilale Desak Perhatian Pemerintah, Pemuda Ikut Angkat Suara
Berita ini 64 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 23:02 WIT

Sempat Dilaporkan Rusak, Jalan Di Desa Skikilale Dibiarkan, Warga Terpaksa Menanggung Beban Sendiri

Selasa, 24 Maret 2026 - 21:08 WIT

Akses Terputus, Warga Desa Skikilale Desak Perhatian Pemerintah, Pemuda Ikut Angkat Suara

Sabtu, 28 Februari 2026 - 00:19 WIT

Hotong “Veten” dari Pulau Buru: Tradisi Panen yang Menyatukan Warga dari Generasi ke Generasi

Berita Terbaru