Aksi Kamisan Ambon, Mahasiswa Asal Pegunungan Seram Utara Minta Tinjau Ulang Status Kawasan Konservasi

Kamis, 11 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ambon | Maluku.Newsline.id – Sejumlah mahasiswa dan pemuda adat menggelar aksi unjuk rasa di Pertigaan Poka, Jl. Ir. M. Putuhena, Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Maluku pada Kamis (11/6/2026).

Aksi tersebut berlangsung sekitar pukul 16:30 WIT dengan bertajuk “Konservasi Tanpa Persetujuan Masyarakat Adat Adalah Perampasan Ruang Hidup”.

Aksi ini merupakan kolaborasi antara Komite Aksi Kamisan dengan Gerakan Mahasiswa Pemuda Pegunungan Seram Utara (GemaPenuSetara) untuk merespon dinamika kebijakan konservasi yang ditetapkan oleh Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) dan Balai Taman Nasional Manusela (BTNM).

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masa aksi mewarnai bundaran monumen Pahlawan J. Leimena itu dengan membentangkan spanduk dan tulisan pada setiap poster.

Massa aksi menilai setiap keputusan yang diambil pemerintah tidak pernah melibatkan masyarakat adat yang memiliki hak penuh dalam wilayah adatnya.

“Selama ini pemerintah yang membuat kebijakan konservasi sangat melemahkan aktivitas keseharian masyarakat adat, hal ini dapat dilihat dari minimnya partisipasi masyarakat adat dalam proses pengambilan keputusan untuk penetapan kawasan konservasi” tegas Simon Maloy dalam orasinya.

IMG 20260611 WA0014
Massa Aksi dalam unjuk rasa yang digelar oleh Komite Aksi Kamisan Ambon dengan Gerakan Mahasiswa Pemuda Pegunungan Seram Utara pada Kamis (11/6/2026)

Sementara itu, Ketua Umum GemaPenuSetara, Jordan Makualaina menjelaskan aksi tersebut merupakan sikap perlawanan yang bersifat solidaritas untuk mengawal sejumlah isu dan persoalan konservasi.

“Hari ini adalah sikap kita sebagai masyarakat adat yang ingin bebas dari perampasan ruang hidup melalui penetapan kawasan konservasi,” ujar Makualaina.

Ia menambahkan, massa aksi juga mendukung aksi yang telah dilakukan oleh dua negeri di Pegunungan Seram Utara yakni Negeri Manusela dan Negeri Maraina.

“Hari ini juga merupakan aksi pernyataan sikap kami dalam mendukung aksi penolakan yang telah dilayangkan oleh Negeri Manusela dan Negeri Maraina di Pegunungan Seram Utara,” lanjutnya.

Menurutnya, masyarakat adat yang merupakan penghuni hutan adat secara turun-temurun kini telah dirugikan atas penguasaan lahan yang dilakukan oleh BPKH dan BTNM.

“Komunitas Masyarakat Adat yang telah hidup lama jauh sebelum hadirnya negara ini, saat ini mereka merasa tidak nyaman atas dugaan penyerobotan lahan yang dilakukan oleh Taman Nasional Manusela dan Balai Pemantapan Kawasan Hutan,” tukasnya.

Makualaina mendesak pemerintah meninjau kembali SK.756/Menhut-II/2011 tentang kawasan konservasi di Provinsi Maluku.

“Mengingat masyarakat adat tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, maka SK dari Kementerian Kehutanan harus dapat ditinjau kembali,” harapnya.

Saat aksi berjalan massa aksi membacakan 5 poin tuntutan sebagai berikut.

1. Mendukung aksi 2 (dua) Negeri Pegunugan Seram Utara yakni Negeri Manusela dan Negeri Maraina.

2. Mendesak Balai Pemantapan Kawasan Hutan dan Balai Taman Nasional Manusela untuk meninjau meninjau kembali tapal batas yang telah ditentukan.

3. Mendesak Pemerintah Daerah untuk merespon aksi yang telah dilakukan.

4. Mendesak Pemerintah Daerah segera membahas dan mengesahkan Perda Adat.

5. Mendesak Pemerintah Pusat untuk segera mengesahkan RUU Masyarakat Adat.

Aksi unjuk rasa berjalan dengan aman dan tertib, massa aksi pun berharap setiap tuntutan yang diajukan dapat segera direspon oleh pihak terkait.

Editor : Eston Halamury

Follow WhatsApp Channel maluku.newsline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perkuat Konsep Kampus SMART, Mahasiswa KKN PPM UKIM Angkatan 65 Revitalisasi Taman Kampus
Kembali Ukir Prestasi, FH UKIM Borong Juara di Lomba Pemandu Museum Siwalima 2026
Jejak Welem Porumau: Dari Kampus di Ambon hingga Panggung Google Indonesia
Narapolis Institute Pertemukan DKP, Akademisi, dan Masyarakat Adat Bahas Konservasi Laut
Dari Perjumpaan Menuju Transformasi: GMKI Hukum UKIM Gelar Pengabdian Masyarakat di Waai Selama 4 Hari
FH UKIM Raih Juara 2 Pada PATIMURA Moot Court Competition Piala Dekan III
Lomba Teatrikal AMGPM Cabang Sumber Kasih Jadi Ruang Kreativitas dan Semangat Pelayanan Pemuda
Pemuda Manipa Desak Polda Maluku Segera Tangkap Pelaku Pengeroyokan Abdullah Mahu
Berita ini 41 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 22:15 WIT

Aksi Kamisan Ambon, Mahasiswa Asal Pegunungan Seram Utara Minta Tinjau Ulang Status Kawasan Konservasi

Kamis, 11 Juni 2026 - 15:00 WIT

Perkuat Konsep Kampus SMART, Mahasiswa KKN PPM UKIM Angkatan 65 Revitalisasi Taman Kampus

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:12 WIT

Kembali Ukir Prestasi, FH UKIM Borong Juara di Lomba Pemandu Museum Siwalima 2026

Senin, 8 Juni 2026 - 17:13 WIT

Jejak Welem Porumau: Dari Kampus di Ambon hingga Panggung Google Indonesia

Jumat, 5 Juni 2026 - 21:52 WIT

Narapolis Institute Pertemukan DKP, Akademisi, dan Masyarakat Adat Bahas Konservasi Laut

Berita Terbaru