MBD | Maluku.Newsline.id – Pemerintah Desa Hila menggelar Musyawarah Khusus Desa guna mengidentifikasi potensi dan ancaman sumber daya laut kepulauan Roma. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Serbaguna Jemaat GPM Hila, Kecamatan Kepulauan Roma, Kabupaten Maluku Barat Daya, Rabu (29/7/2026), menjadi langkah awal dalam memperkuat pengelolaan kawasan konservasi laut yang berbasis partisipasi masyarakat.
Musyawarah tersebut dihadiri oleh perwakilan Camat Kepulauan Roma, Ketua Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku Wilayah GP XII Pulau-pulau Terselatan, unsur TNI-Polri, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta warga Desa Hila.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam forum itu, peserta bersama-sama mengidentifikasi berbagai potensi sumber daya laut yang dimiliki Pulau Roma, mulai dari sektor perikanan, ekosistem terumbu karang, padang lamun, hingga kawasan pesisir yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi bagi masyarakat.
Di sisi lain, musyawarah juga memetakan berbagai ancaman yang berpotensi merusak ekosistem laut, sehingga dapat dirumuskan langkah-langkah perlindungan dan pengelolaan yang lebih efektif.
Kepala Desa Hila, Alfaris Salkery, mengatakan musyawarah tersebut merupakan inisiatif Pemerintah Desa Hila yang berkoordinasi dengan Blue Alliance Indonesia sebagai pengelola kawasan konservasi Kepulauan Romang yang telah direncanakan sejak beberapa bulan terakhir.
“Kegiatan ini memang sudah kami inisiasi. Blue Alliance Indonesia sudah beberapa bulan berada di sini dan pemerintah desa telah mengetahui tujuan program mereka. Namun, secara umum masyarakat belum memahami secara menyeluruh, sehingga melalui musyawarah ini seluruh informasi dapat disampaikan secara terbuka,” ujar Alfaris usai kegiatan.
Ia mengapresiasi keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dalam musyawarah tersebut.
Menurutnya, kehadiran berbagai unsur pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, hingga pemuda menunjukkan adanya komitmen bersama dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi.
“Kami menyampaikan terima kasih karena kegiatan ini melibatkan seluruh stakeholder di Desa Hila. Peserta yang hadir merupakan perwakilan dari berbagai instansi, sehingga informasi yang diperoleh dalam musyawarah ini dapat diteruskan kepada masyarakat secara luas,” katanya.
Alfaris menegaskan bahwa pelestarian kawasan konservasi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah desa, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat.
“Kami telah mencapai kesepakatan bersama bahwa konservasi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah desa, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat Desa Hila,” tegasnya.
Sementara itu, perwakilan Blue Alliance Indonesia, Zikri Ulhaq, menilai musyawarah tersebut menjadi momentum penting karena inisiatif penyelenggaraan datang langsung dari pemerintah desa.
“Selama ini banyak program yang datang ke desa dan pemerintah desa hanya menjadi peserta atau undangan. Kali ini justru desa yang mengundang dan mengambil inisiatif untuk melaksanakan kegiatan. Ini menunjukkan bahwa desa sudah memiliki kesadaran bahwa pengelolaan sumber daya laut merupakan tanggung jawab bersama seluruh stakeholder,” ujarnya.
Menurut Zikri, hasil identifikasi menunjukkan bahwa Pulau Roma memiliki potensi kelautan yang besar, namun juga menghadapi ancaman nyata terhadap kelestarian ekosistemnya.
Ia mencontohkan, salah satu kekuatan masyarakat adalah keberadaan sasi, yakni sistem pengelolaan sumber daya alam berbasis adat yang telah lama diterapkan sebagai bentuk perlindungan terhadap sumber daya laut.
Namun, praktik tersebut kini menghadapi berbagai tantangan, termasuk tekanan dari aktivitas penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan, termasuk yang dilakukan oleh nelayan dari luar wilayah.
“Ketika kita berbicara tentang konservasi modern, bukan berarti menggantikan sasi. Justru keduanya harus berjalan berdampingan. Kearifan lokal yang sudah dipercaya masyarakat perlu diperkuat dengan pendekatan ilmiah agar saling melengkapi dan memperkuat upaya pelestarian sumber daya laut,” jelasnya.
Ia menambahkan, komitmen yang telah dibangun dalam musyawarah tersebut merupakan langkah awal yang harus terus dikawal agar menghasilkan program konservasi yang berkelanjutan.
“Kesepakatan hari ini adalah pintu masuk. Ke depan kita harus bersama-sama mengawal komitmen ini agar menjadi gerakan yang konsisten demi menjaga kelestarian laut Pulau Roma,” tutup Zikri.
Kepulauan Roma dikenal memiliki kekayaan sumber daya laut yang melimpah dengan ekosistem pesisir yang menjadi habitat berbagai biota laut, seperti terumbu karang, padang lamun, dan sumber daya perikanan yang menjadi penopang utama kehidupan masyarakat.
Potensi tersebut menjadikan wilayah ini memiliki nilai ekologis dan ekonomi yang tinggi, sehingga memerlukan pengelolaan yang berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian lingkungan.
Melalui musyawarah ini, seluruh pihak berharap hasil identifikasi potensi dan ancaman dapat menjadi dasar dalam penyusunan program pengelolaan kawasan konservasi yang lebih efektif.
Sinergi antara pemerintah, lembaga konservasi, aparat keamanan, dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut Pulau Roma bagi generasi sekarang maupun mendatang.
Penulis : KB Ambon
Editor : KB Ambon











