Labetawi Jadi Kampung Nelayan Merah Putih, Masalah Nelayan Terjawab?

Rabu, 8 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tual | Maluku.Newsline.id – Desa Labetawi di Kota Tual, Maluku, ditetapkan sebagai bagian dari program Kampung Nelayan Merah Putih yang diinisiasi pemerintah pusat. Program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, khususnya nelayan, melalui penguatan sektor perikanan.

Penetapan Labetawi menjadikannya sebagai salah satu lokasi uji coba kebijakan nasional di sektor kelautan. Pemerintah menargetkan peningkatan produktivitas nelayan, perbaikan distribusi hasil tangkapan, serta penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat pesisir.

Namun, sejumlah kalangan menilai keberhasilan program ini sangat bergantung pada pendekatan kebijakan yang diterapkan di lapangan.

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dosen perikanan sekaligus Sekretaris Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tual, A. Samad Serang, menegaskan bahwa program tersebut harus dikawal secara serius agar tidak hanya menjadi simbol.

“Kebijakan ini harus mampu menjawab persoalan mendasar nelayan, terutama dalam sistem pemasaran dan distribusi hasil tangkapan,” ujarnya saat di wawancarai Maluku.Newsline.id. Selasa (07/04/2026)

Secara nasional, sektor perikanan Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan produksi mencapai puluhan juta ton per tahun dan nilai ekspor miliaran dolar AS. Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya berdampak pada kesejahteraan nelayan.

Kondisi serupa juga terjadi di Maluku yang dikenal sebagai salah satu sentra perikanan tangkap nasional. Meski memiliki potensi besar dengan komoditas unggulan seperti tuna, cakalang, dan kerapu, nelayan masih menghadapi kendala akses pasar, rendahnya posisi tawar, serta keterbatasan fasilitas.

Menurut Samad, persoalan utama nelayan bukan terletak pada produksi, melainkan struktur pasar yang belum berpihak kepada mereka. Harga hasil tangkapan, kata dia, masih ditentukan oleh pedagang pengumpul.

“Nelayan tidak memiliki kendali terhadap harga. Ini yang menyebabkan ketimpangan distribusi keuntungan,” jelasnya.

Selama ini, intervensi pemerintah lebih berfokus pada bantuan fisik seperti kapal dan alat tangkap. Padahal, tanpa reformasi sistem tata niaga, langkah tersebut dinilai belum cukup meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Dalam rantai distribusi, keuntungan terbesar justru dinikmati oleh pedagang pengumpul hingga eksportir. Hal ini dipicu oleh keterbatasan akses informasi dan pasar di tingkat nelayan.

Untuk itu, Samad mendorong pemanfaatan teknologi digital guna meningkatkan transparansi harga dan memperluas akses pasar. Selain itu, penyediaan fasilitas penyimpanan seperti cold storage juga dinilai penting agar nelayan tidak menjual hasil tangkapan saat harga rendah.

Meski demikian, perubahan sistem ini diperkirakan akan menghadapi tantangan, terutama dari pihak yang selama ini diuntungkan oleh pola lama.

Keberhasilan program Kampung Nelayan Merah Putih di Labetawi, menurutnya, harus diukur dari peningkatan pendapatan dan kesejahteraan nelayan.

“Jika berhasil, ini bisa menjadi model nasional. Jika tidak, berisiko hanya menjadi program simbolik,” pungkasnya. (**)

Penulis : SS

Editor : Melris Salmanu

Follow WhatsApp Channel maluku.newsline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Masyarakat Adat Maraina Larang Aktivitas BTN dan BPKH hingga Ada Kejelasan Batas Kawasan
Warga Keluhkan Infrastruktur Jalan dan Pelayanan Pemerintah Desa
Warga Desa Hila Kembali Soroti Ketiadaan Sinyal Telkomsel, Pemda MBD Dinilai Gagal Menjawab Keluhan Bertahun-tahun
Marak IUUF di laut Aru, DFW Gandeng Pemda Gelar Lokakarya
Aksi WPD 2026, Penyadaran Pelestarian Burung Paruh Bengkok Asal Aru
Mercy Barends Sumbang Hewan Kurban Bagi Warga Muslim Aru
Nyatakan Sikap, GMNI Aru Dukung Kejati Selesaikan Kasus Jalan Lingkar Wokam
FH UKIM Raih Juara 2 Pada PATIMURA Moot Court Competition Piala Dekan III
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 17:41 WIT

Masyarakat Adat Maraina Larang Aktivitas BTN dan BPKH hingga Ada Kejelasan Batas Kawasan

Jumat, 29 Mei 2026 - 18:25 WIT

Warga Keluhkan Infrastruktur Jalan dan Pelayanan Pemerintah Desa

Rabu, 27 Mei 2026 - 23:40 WIT

Marak IUUF di laut Aru, DFW Gandeng Pemda Gelar Lokakarya

Rabu, 27 Mei 2026 - 23:29 WIT

Aksi WPD 2026, Penyadaran Pelestarian Burung Paruh Bengkok Asal Aru

Selasa, 26 Mei 2026 - 23:40 WIT

Mercy Barends Sumbang Hewan Kurban Bagi Warga Muslim Aru

Berita Terbaru