Kab. Maluku Tengah | Maluku.Newsline.id – Bacarita Kiri Project kembali membuka ruang diskusi kritis bagi generasi muda melalui kegiatan bincang dan wawancara yang digelar di Rumah Bacarita Kiri Project, Negeri Waraka, Kecamatan Teluk Elpaputih, Kabupaten Maluku Tengah, Minggu sore sekitar pukul 16.00 WIT. Kegiatan ini diikuti oleh dua peserta didik tingkat SMA yang tergabung dalam Bacarita Kiri Project, yakni Karinda Latuheru sebagai penanya sekaligus pewawancara dan Melisa Tahapry sebagai kameramen. Diskusi tersebut menghadirkan Valentino Manduapessy, mahasiswa Fakultas Hukum yang juga merupakan pendiri Bacarita Kiri Project.
Valentino Manduapessy menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membuka ruang berpikir kritis bagi generasi yang akan datang agar mampu memahami realitas sosial serta siap menghadapi berbagai persoalan bangsa dan negara ke depan.
“Tujuan kegiatan ini untuk membuka ruang bagi generasi yang akan datang agar tetap berpikir kritis, memperluas ilmu dan pengetahuan sebagai anak bangsa, serta siap melihat masalah-masalah yang terjadi di bangsa dan negara ini ke depannya,” ujar Valenthino dalam keterangannya Senin (26/1/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sesi diskusi, Karinda Latuheru melontarkan sejumlah pertanyaan kritis terkait kondisi sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia. Menanggapi pertanyaan mengenai kesejahteraan masyarakat, Valentino menilai Indonesia belum dapat dikatakan sejahtera.
“Menurut saya sebagai seorang aktivis kiri, Indonesia belum sejahtera. Kesejahteraan hanya dinikmati segelintir elite, sementara buruh, tani, nelayan, dan rakyat kecil terus hidup dalam tekanan. Ini bukan kegagalan rakyat, tapi kegagalan sistem,” tegas Valentino.
Saat ditanya apakah Indonesia telah merdeka secara penuh, Valentino menyampaikan pandangan kritis bahwa kemerdekaan Indonesia belum sepenuhnya terwujud.
“Indonesia belum merdeka 100 persen. Penjajahan hanya berganti wajah dari kolonialisme militer menjadi kolonialisme ekonomi. Selama rakyat belum berdaulat atas hidup dan sumber dayanya, kemerdekaan hanyalah simbol. Perjuangan masih berjalan,” katanya.
Valentino juga menjelaskan alasan dirinya tetap konsisten mengkritik kebijakan pemerintah. Menurutnya, kritik merupakan bagian penting dalam menjaga agar kekuasaan tidak menyimpang.
“Kita harus terus mengkritik kebijakan pemerintah karena kekuasaan yang tak diawasi akan selalu berpihak pada elite dan modal. Mengkritik bukan melawan negara, melainkan membela rakyat. Diam adalah bentuk pengkhianatan,” ujarnya.
Sementara itu, terkait maraknya kasus korupsi di Indonesia, Valentino menilai persoalan tersebut bukan sekadar kesalahan individu, melainkan persoalan sistemik.
“Korupsi bukan hanya soal moral individu, tapi penyakit sistemik. Selama kekuasaan berpihak pada elite dan rakyat disingkirkan dari pengambilan keputusan, korupsi akan terus direproduksi. Memberantas korupsi berarti mengubah sistemnya, bukan hanya menangkap pelakunya,” tandasnya.
Melalui diskusi ini, Bacarita Kiri Project berharap dapat terus menjadi ruang alternatif pendidikan politik dan sosial bagi generasi muda, khususnya di Maluku, agar berani berpikir kritis dan tidak apatis terhadap persoalan bangsa. (EH)
Penulis : Eston Halamury













