Sawahlunto | Maluku.Newsline.id – Pemerintah Kota Sawahlunto menunjukkan komitmen kuat dalam mendorong kemajuan sektor ekonomi kreatif berbasis budaya lokal melalui penyelenggaraan Festival Batik Sumatera Barat yang dikolaborasikan dengan Sawahlunto International Music Festival (SIMFes) di kawasan Silo, Jumat (7/11/2025). Acara tersebut dihadiri langsung oleh Ketua TP-PKK sekaligus Ketua Dekranasda Kota Sawahlunto, Ny. Yori Gemitia Riyanda Putra, bersama Ketua GOW Ny. Kemala Jeffry Hibatullah, serta Anggota DPRD Sumatera Barat, Ny. Neldaswenti.
Festival yang berlangsung meriah ini menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat posisi Sawahlunto sebagai pusat kreativitas dan kebudayaan di Sumatera Barat. Keterlibatan langsung unsur legislatif dan eksekutif menunjukkan adanya sinergi antara pembuat kebijakan dan pelaku budaya dalam membangun industri kreatif yang berdaya saing tinggi.
Dalam kesempatan tersebut, berbagai kegiatan digelar, termasuk peragaan busana batik dan songket yang menampilkan karya-karya perajin lokal dengan sentuhan desain modern. Peragaan busana ini menjadi simbol adaptasi antara tradisi dan inovasi, sekaligus membuktikan bahwa nilai-nilai budaya dapat hadir dalam keseharian masyarakat tanpa kehilangan makna aslinya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Dekranasda Kota Sawahlunto, Ny. Yori Gemitia Riyanda Putra, dalam sambutannya menegaskan pentingnya pemberdayaan perajin lokal melalui pelatihan, promosi digital, dan kolaborasi lintas sektor. Ia menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen memperluas ruang promosi bagi batik dan songket Sawahlunto agar mampu dikenal lebih luas, terutama di kalangan generasi muda.
Lebih lanjut, Ny. Yori menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Sawahlunto melalui Dekranasda terus mengupayakan sinergi antara dunia pendidikan dan UMKM, agar batik tidak hanya menjadi produk estetika, tetapi juga bagian dari identitas dan kebanggaan pelajar di daerah tersebut. Upaya ini dilakukan dengan menghadirkan program pelatihan desain busana dan inovasi warna alami yang ramah lingkungan.
Sementara itu, Anggota DPRD Sumatera Barat, Ny. Neldaswenti, yang turut hadir dalam kegiatan itu menyampaikan apresiasi terhadap kreativitas masyarakat Sawahlunto. Ia mengungkapkan bahwa sebagian dana pokok pikiran (Pokir) yang dialokasikannya diarahkan untuk mendukung keberlangsungan Festival Batik serta memperluas akses perajin terhadap pasar dan sumber pembiayaan.
Menurut Neldaswenti, dukungan terhadap batik dan songket tidak semata untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga bentuk nyata pelestarian budaya daerah. Ia menekankan bahwa sektor industri kreatif perlu menjadi bagian penting dari kebijakan ekonomi berbasis kearifan lokal yang tengah digalakkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Festival ini juga menjadi wadah pertemuan antara pemerintah, seniman, pengrajin, dan pelaku usaha kecil dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif. Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan tercipta rantai nilai ekonomi baru yang berakar pada warisan budaya, namun mampu bersaing di pasar modern.
Selain pertunjukan busana, acara malam puncak juga diisi dengan penampilan musik lintas genre dari berbagai daerah, termasuk kolaborasi antara musisi lokal dan internasional dalam rangkaian SIMFes. Kehadiran mereka menambah daya tarik festival dan menjadikan Sawahlunto sebagai destinasi budaya yang inklusif dan dinamis.
Pemerintah Kota Sawahlunto berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi agenda tahunan yang memperkuat branding kota sebagai pusat seni dan kebudayaan di Sumatera Barat. Dengan dukungan dari semua pihak, batik dan songket Sawahlunto diharapkan tidak hanya eksis di tingkat lokal, tetapi juga menembus pasar nasional bahkan internasional.
Kolaborasi antara Pemko Sawahlunto, Dekranasda, DPRD Sumbar, dan pelaku UMKM menjadi bukti nyata bahwa kebijakan yang berpihak pada pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sinergi ini menunjukkan arah pembangunan daerah yang tidak hanya mengejar kemajuan ekonomi, tetapi juga menjaga warisan budaya bangsa.
Melalui langkah berkelanjutan ini, Sawahlunto menegaskan diri sebagai contoh daerah yang mampu mengharmonikan nilai-nilai tradisi dengan semangat modernitas. Batik dan songket bukan lagi sekadar simbol, tetapi telah menjadi pondasi ekonomi kreatif baru yang menghidupkan semangat masyarakat untuk terus berkarya dan berinovasi.
(KP)












