Kab. SBB | Maluku.Newsline.id – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Seram Bagian Barat (SBB) mengecam keras pelantikan dan pengukuhan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GMNI yang digelar di Golden Boutique Hotel, Kemayoran, Jakarta Pusat. Kegiatan tersebut dinilai sebagai langkah sepihak yang berpotensi memecah belah persatuan GMNI di seluruh Indonesia.
DPC GMNI SBB menilai, pelantikan DPP GMNI versi Sujahri–Amir justru bertolak belakang dengan semangat rekonsiliasi dan persatuan yang sebelumnya telah disepakati bersama oleh seluruh elemen GMNI. Menurut mereka, langkah tersebut tidak hanya mencederai nilai perjuangan organisasi, tetapi juga menghidupkan kembali konflik internal yang seharusnya telah berakhir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua DPC GMNI SBB, Sani Nurubullu, menegaskan bahwa dinamika panjang yang pernah terjadi dalam tubuh GMNI harus dijadikan pelajaran penting bagi seluruh kader. Ia mengingatkan pengalaman pahit Kongres GMNI di Ambon pada tahun 2019 agar tidak kembali terulang.
“Kongres GMNI di Ambon tahun 2019 harus menjadi cerminan dan pengalaman kolektif bagi seluruh kader GMNI di Indonesia. GMNI harus kembali berdiri sebagai organisasi kader dan organisasi perjuangan yang berpijak pada Marhaenisme serta ajaran Bung Karno,” ujar Sani dalam keterangannya Jumat (16/1/2025).
Lebih lanjut, Sani menjelaskan bahwa rekonsiliasi dan penyatuan GMNI yang telah disepakati dalam forum nasional di Bali pada 15–18 Desember lalu merupakan bentuk kedewasaan kader dalam menyelesaikan konflik internal organisasi.
“Rekonsiliasi dan penyatuan di Bali adalah solusi terbaik dan wujud kedewasaan kader untuk menyatukan GMNI secara utuh, dengan menghilangkan faksi A dan faksi B. Perpecahan internal selama ini telah berdampak serius hingga ke tingkat DPK dan DPC sebagai basis utama organisasi di daerah,” jelasnya.
DPC GMNI SBB juga menambahkan bahwa pelantikan DPP GMNI versi Sujahri–Amir secara tidak langsung telah mencederai semangat persatuan dan berpotensi membuka kembali luka lama di tubuh organisasi.
“Sebagai kader dan anggota GMNI, kami sudah lelah dengan dinamika organisasi yang berkepanjangan. Pelantikan ini justru ingin kembali memecah belah GMNI dari dalam,” tegasnya.
Menurut DPC GMNI SBB, Sujahri–Amir seharusnya bersikap legowo dan konsisten terhadap hasil penyatuan yang telah disepakati di Bali. Mereka menilai, langkah pelantikan di Jakarta menunjukkan ketidaksinkronan antara narasi persatuan dan tindakan yang diambil.
“Sujahri–Amir semestinya legowo terhadap penyatuan di Bali. Narasi persatuan yang disampaikan tidak sejalan dengan tindakan pelantikan yang dilakukan di Golden Boutique Hotel, Kemayoran, Jakarta Pusat,” pungkas Sani.
DPC GMNI SBB menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga marwah organisasi dan mendorong persatuan GMNI secara utuh demi keberlanjutan perjuangan kaum marhaen di Indonesia. (WKB)










