MBD | Maluku.Newsline.id – Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Cabang Eden yang membawahi Ranting Hila, Solath, dan Oirleli menggelar aksi Kampanye Bebas Sampah pada Rabu, 30 September 2026 di desa hila. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di wilayah pelayanan AMGPM Cabang Eden.
Aksi ini tidak hanya menyasar lokasi-lokasi yang terlihat oleh masyarakat, tetapi juga dipusatkan pada sejumlah titik yang kerap luput dari perhatian, namun memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat. Lokasi tersebut meliputi mata air, selokan, pantai, muara kali, hingga kawasan laut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua AMGPM Cabang Eden, Samuel Salkery, mengatakan Kampanye Bebas Sampah dapat terlaksana berkat adanya kerja sama antara AMGPM dengan Pemerintah Desa Hila, Majelis Jemaat GPM Hila, serta masyarakat.
Menurut Salkery, persoalan lingkungan, khususnya sampah, tidak dapat diselesaikan hanya melalui kegiatan satu kelompok atau organisasi. Dibutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat agar upaya menjaga kebersihan dapat berlangsung secara konsisten.
“Kampanye Bebas Sampah ini dapat terlaksana dengan baik karena adanya kerja sama AMGPM dengan Pemerintah Desa Hila, Majelis Jemaat GPM Hila, dan juga bersama masyarakat. Ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan membutuhkan kerja sama dan keterlibatan semua pihak,” kata Salkery.
Ia berharap kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya muncul ketika kegiatan tersebut masuk dalam program organisasi. Menurutnya, menjaga lingkungan harus ditempatkan sebagai tanggung jawab moral yang melekat dalam kehidupan setiap orang.
“Semoga ke depannya aksi peduli lingkungan tidak sebatas program organisatoris yang baru terlaksana ketika sudah masuk dalam agenda kegiatan. Ini merupakan tanggung jawab moral yang harus diterapkan, dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga berkelompok dan dilakukan secara berkala,” ujarnya.
Salkery juga menilai persoalan sampah perlu dilihat dari sudut pandang yang lebih luas. Sampah, kata dia, tidak semestinya hanya dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang atau dimusnahkan melalui pembakaran. Dengan pengelolaan yang tepat, sebagian jenis sampah dapat memiliki nilai guna dan bahkan menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Sampah bukan hanya menjadi masalah berupa tumpukan-tumpukan yang selesai ketika dibuang dan dibakar. Kita harus mulai melihat bagaimana sampah dapat dikelola dengan baik, sehingga bisa menjadi produk kerajinan dan juga membuka peluang usaha yang ada saat ini,” katanya.
Menurut dia, perubahan pola pikir tersebut penting untuk mendorong masyarakat agar tidak hanya berorientasi pada pembersihan sampah, tetapi juga memikirkan bagaimana sampah dapat dikurangi sejak dari sumbernya, dipilah, dikelola, dan dimanfaatkan kembali.
Dalam aksi Kampanye Bebas Sampah tersebut, perhatian khusus diberikan kepada kawasan yang memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Mata air, misalnya, menjadi salah satu sumber kebutuhan masyarakat yang perlu dijaga kebersihannya. Begitu pula dengan selokan, muara kali, pantai, dan laut yang berpotensi menjadi tempat penumpukan sampah apabila tidak dikelola dengan baik.
Salkery menjelaskan, pemilihan sejumlah lokasi tersebut juga berkaitan dengan upaya mencegah berbagai dampak lingkungan yang dapat terjadi akibat penumpukan sampah.
“Aksi Kampanye Bebas Sampah lebih terpusat pada tempat-tempat yang tersembunyi dan merupakan lokus utama umat atau masyarakat, yaitu mata air, selokan, pantai, muara kali, dan laut. Ini dilakukan demi mencegah banjir, abrasi, serta pencemaran air, laut, dan udara,” jelasnya.
Ia mengatakan, keberadaan sampah di lingkungan tidak hanya mengganggu kebersihan dan keindahan wilayah, tetapi apabila tidak ditangani secara baik dapat memberikan dampak terhadap ekosistem dan kehidupan masyarakat. Karena itu, kesadaran menjaga lingkungan perlu dibangun melalui tindakan nyata dan dilakukan secara berkelanjutan.
Kampanye Bebas Sampah di Hila, Solath, dan Oirleli juga merupakan salah satu program yang digumuli AMGPM Cabang Eden dalam Konferensi Cabang (Konfercab) I. Program tersebut kemudian diwujudkan dalam aksi nyata dengan melibatkan unsur organisasi, pemerintah desa, gereja, dan masyarakat.
Bagi AMGPM Cabang Eden, kegiatan tersebut tidak dimaknai semata-mata sebagai pelaksanaan program organisasi. Salkery menyebut kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari panggilan kaum muda untuk peka terhadap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Kampanye Bebas Sampah di Hila, Solath, dan Oirleli merupakan salah satu program yang digumuli oleh AMGPM Cabang Eden dalam Konfercab I. Namun, ini bukan sekadar program. Ini merupakan panggilan jiwa AMGPM selaku kaum muda untuk terus gelisah dan peduli terhadap lingkungan, khususnya di Desa dan Jemaat Hila, Solath, dan Oirleli,” tegasnya.
Ia menilai persoalan sampah di wilayah tersebut membutuhkan perhatian secara terus-menerus. Menurutnya, kondisi lingkungan yang mulai terdampak oleh sampah harus menjadi perhatian bersama agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar di kemudian hari.
“Kita harus menyadari bahwa lingkungan di Desa dan Jemaat Hila, Solath, dan Oirleli saat ini, baik secara sadar maupun tidak sadar, sudah terdampak dan tercemar oleh persoalan sampah. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan tidak boleh berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi harus menjadi kebiasaan dan gerakan bersama,” kata Salkery.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. AMGPM Cabang Eden juga mendorong agar aksi serupa dapat dilakukan secara berkala sehingga kebersihan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau organisasi tertentu, melainkan menjadi bagian dari kehidupan bersama.
Melalui Kampanye Bebas Sampah ini, AMGPM Cabang Eden bersama Ranting Hila, Solath, dan Oirleli ingin mendorong perubahan dari hal-hal sederhana, mulai dari tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi sampah, memilah sampah, hingga mengelolanya secara lebih produktif.
Gerakan tersebut diharapkan dapat memperkuat kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga kebersihan bukan hanya untuk kepentingan saat ini, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama untuk keberlanjutan lingkungan bagi generasi berikutnya.
Penulis : KB Ambon
Editor : KB Ambon












