Anatomi Kekerasan di UKIM: Ketika ‘Orang Basudara’ Tersandera Absennya Figur Lapangan WR III

Minggu, 9 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh: Giovani Walewawan
(Ketua Bidang Pengkajian dan Penalaran Senat Mahasiswa Universitas Kristen Indonesia Maluku [SMU UKIM], Periode 2023–2024)

Alarm Kekerasan Mahasiswa:

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ambon | Maluku.Newsline.id – Tawuran brutal antar mahasiswa di Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) baru-baru ini, yang berujung pada perusakan fasilitas kampus, membuka luka lama dalam tata kelola institusi. Di balik kericuhan ini, tersimpan ironi besar: kampus yang dikenal sebagai “Kampus Orang Basudara” justru menjadi arena kekerasan destruktif yang mencoreng nilai persaudaraan dan pendidikan.

Menurut pengamatan penulis, yang juga pernah berada di struktur organisasi mahasiswa, konflik ini bukan sekadar perselisihan personal, melainkan refleksi dari disfungsi sistemik yang merambat dari krisis otonomi mahasiswa hingga ketiadaan figur otoritatif yang hadir di lapangan.

Disintegrasi Struktural dan Jauhnya Jangkauan Bidang Kemahasiswaan

Bidang Kemahasiswaan, yang berada di bawah Wakil Rektor/Dekan III, seharusnya menjadi pengawas, fasilitator, dan pembina karakter mahasiswa. Namun kenyataannya, lembaga ini tampak jauh dari fungsi idealnya. Fungsi pengawas, mediator konflik, dan penghubung program organisasi mahasiswa berubah menjadi birokrasi kaku yang minim sentuhan nyata di lapangan.

Ketika otoritas kampus absen atau hadir secara seremonial, ruang kosong itu terisi oleh loyalitas fakultas, sentimen primordial, dan ketegangan antar kelompok mahasiswa yang akhirnya memicu benturan. Kegagalan komunikasi vertikal di tingkat fakultas memperparah konflik, yang seharusnya bisa diredam sejak awal, malah meledak menjadi kekerasan terbuka.

Krisis Otonomi Organisasi Mahasiswa

Fenomena ini juga memperlihatkan kemandulan otonomi Senat Mahasiswa Universitas (SMU) dan Senat Mahasiswa Fakultas (SMF). Organisasi mahasiswa yang seharusnya menjadi laboratorium kepemimpinan dan penalaran kini terjebak dalam peran simbolis. Intervensi berlebihan birokrasi membuat kreativitas dan inisiatif kritis mahasiswa tersumbat.

Program kerja yang idealnya kritis dan inovatif tereduksi menjadi ritual administratif, karena harus melewati labirin izin yang ketat. Mahasiswa yang haus aktualisasi diri akhirnya mencari saluran lain, yang sering berujung pada benturan kelompok dan kekerasan.

Membenahi Organisasi, Mengembalikan Karakter

Tawuran di UKIM seharusnya menjadi momentum refleksi mendalam, bukan sekadar sanksi. Pemilihan Rektor yang akan datang menjadi titik krusial untuk membalikkan keadaan. Rektor baru perlu melihat Bidang Kemahasiswaan bukan sebagai beban administratif, tetapi sebagai investasi strategis dalam mencetak pemimpin masa depan.

Kepemimpinan yang ideal adalah yang mengembalikan otonomi penuh kepada SMU dan SMF, menghargai kritik mahasiswa sebagai oksigen demokrasi kampus, dan mampu menyembuhkan luka disintegrasi kelembagaan.

Figur WR III di Lapangan

Pemilihan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan menjadi kunci. Figur WR III yang ideal bukan sekadar akademisi administratif, tetapi pembina lapangan yang hadir di tengah mahasiswa, menjadi mediator konflik, mentor organisasi, dan memiliki kepekaan terhadap psikologi kepemudaan.

WR III yang hadir dan mendengar akan menjadi buffer ketegangan sekaligus katalis pengaktifan forum penalaran dan advokasi. Tidak ada lagi ruang bagi pemimpin seremonial; kampus membutuhkan pembina sejati yang menanamkan semangat “orang basudara” sebagai etos hidup nyata.

Mengembalikan Semangat ‘Orang Basudara’

UKIM sebagai lembaga pendidikan Kristen harus kembali menjadi mercusuar nilai, bukan sarang kekerasan. Restorasi organisasi mahasiswa, penguatan komunikasi autentik, dan revitalisasi peran SMU dan SMF adalah langkah awal memastikan semangat “Kampus Orang Basudara” tidak sekadar slogan, tetapi kenyataan yang kokoh.

Kekerasan yang terjadi adalah cermin kegagalan kita bersama dalam membina mahasiswa. Sudah saatnya pimpinan, Bidang Kemahasiswaan, dan seluruh organisasi mahasiswa duduk bersama, mengakui disfungsi ini, dan membenahi sistem secara radikal demi masa depan kampus yang lebih bermartabat.

Meta Description: Tawuran mahasiswa di UKIM menjadi refleksi krisis tata kelola dan disfungsi organisasi. Opini ini menyoroti perlunya revitalisasi Bidang Kemahasiswaan dan peran WR III sebagai figur lapangan untuk mengembalikan semangat “Orang Basudara”.

 

Follow WhatsApp Channel maluku.newsline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saniri Alifuru: Konservasi Jangan Marginalkan Masyarakat Adat
GEMA PENU SETARA Kritik Pertemuan 11 Raja Negeri, Minta Masyarakat Adat Dilibatkan dalam Penyelesaian Konservasi
Mahasiswa MBD Soroti Polemik Anggaran Kelistrikan Rp9 Triliun di Maluku, Dorong Transparansi
Pemprov Maluku Apresiasi Pengawalan Mahasiswa MBD terhadap Tenaga Kerja Lokal Blok Masela
Pastikan Tenaga Kerja Lokal pada Pengembangan Blok Masela, GEMA MBD, GMBK dan Ketua Paguyuban se-Kabupaten MBD Audiensi dengan Disnakertrans Provinsi Maluku
Skandal Anggaran Publikasi Pemkot Ambon Rp13,6 Miliar Disorot, Mahasiswa Desak Kejati Maluku Usut Temuan BPK
Valentino Manduapessy Soroti Prioritas APBN: MBG dan Kopdes Berjalan, Penanganan Bencana NTT Jangan Terabaikan
Masyarakat Adat Seram Utara Pegunungan Desak Cabut Status Taman Nasional Manusela di Wilayah Adatnya
Berita ini 52 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 09:51 WIT

Saniri Alifuru: Konservasi Jangan Marginalkan Masyarakat Adat

Sabtu, 5 September 2026 - 14:02 WIT

GEMA PENU SETARA Kritik Pertemuan 11 Raja Negeri, Minta Masyarakat Adat Dilibatkan dalam Penyelesaian Konservasi

Selasa, 1 September 2026 - 23:24 WIT

Pemprov Maluku Apresiasi Pengawalan Mahasiswa MBD terhadap Tenaga Kerja Lokal Blok Masela

Selasa, 1 September 2026 - 22:52 WIT

Pastikan Tenaga Kerja Lokal pada Pengembangan Blok Masela, GEMA MBD, GMBK dan Ketua Paguyuban se-Kabupaten MBD Audiensi dengan Disnakertrans Provinsi Maluku

Minggu, 30 Agustus 2026 - 12:23 WIT

Skandal Anggaran Publikasi Pemkot Ambon Rp13,6 Miliar Disorot, Mahasiswa Desak Kejati Maluku Usut Temuan BPK

Berita Terbaru