Ambon | Maluku.Newsline.id — Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) memasuki babak baru setelah dilantiknya Rektor baru, Dr. Steve Geraldo Christoffel Gaspersz, M.A., pada 27 November 2025. Pelantikan tersebut membawa harapan besar bagi civitas akademika, khususnya mahasiswa, agar kepemimpinan baru mampu menghadirkan perubahan positif dalam tata kelola kampus, termasuk soal pengelolaan anggaran kemahasiswaan.
Salah satu mahasiswa UKIM, Angklin Ahwalam, menyampaikan harapannya agar di bawah kepemimpinan Rektor yang baru, anggaran dapat disalurkan secara maksimal kepada Senat Mahasiswa Universitas (SMU) UKIM. Menurutnya, selama ini masih banyak program SMU yang belum berjalan optimal akibat keterbatasan dukungan anggaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dengan adanya Rektor baru, saya berharap SMU UKIM dapat lebih difokuskan dan didukung dalam menjalankan program-programnya. Banyak program yang belum terlaksana dengan baik, dan saya berharap anggaran dapat disalurkan untuk meningkatkan kinerja SMU UKIM,” ujar Angklin Selasa (16/12/2025).
Ia menegaskan, Rektor baru diharapkan mampu membawa perubahan nyata, terutama dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran di lingkungan UKIM. Dengan sistem yang transparan dan akuntabel, Angklin menilai anggaran kampus dapat digunakan secara efektif dan efisien demi peningkatan kualitas pendidikan dan aktivitas kemahasiswaan.
Namun demikian, Angklin juga menyoroti sikap SMU UKIM yang dinilainya masih pasif dalam memperjuangkan hak-hak kelembagaan mahasiswa. Ia mengkritik belum adanya langkah tegas dari SMU untuk melakukan konsolidasi dan memperjuangkan alokasi anggaran kepada pihak rektorat.
“Saatnya SMU UKIM bersuara dan menuntut haknya. Jangan biarkan anggaran terabaikan lagi. Ini waktunya konsolidasi dan berjuang bersama untuk meningkatkan kinerja SMU UKIM,” tegasnya.
Lebih lanjut, Angklin menaruh perhatian khusus kepada Ketua Umum SMU UKIM, Daud Sely, yang diharapkan dapat memimpin organisasi mahasiswa tersebut dengan bijak dan progresif. Ia mempertanyakan langkah-langkah konkret yang telah dilakukan SMU dalam memperjuangkan anggaran kemahasiswaan.
“Apa yang sudah dilakukan SMU UKIM untuk mendapatkan anggaran? Apakah hanya duduk diam dan menunggu? Tidak ada proposal, tidak ada lobi, tidak ada upaya apa pun? Ini tidak bisa terus berlanjut seperti ini,” tambahnya.
Menurut Angklin, apabila kondisi tersebut terus dibiarkan, maka kepengurusan SMU UKIM pada periode ini berpotensi dinilai gagal dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Ia menekankan bahwa persoalan anggaran bukan semata-mata tentang SMU, melainkan menyangkut masa depan UKIM secara keseluruhan.
Mahasiswa berharap Rektor baru dapat mendengar dan merespons aspirasi tersebut dengan langkah-langkah konkret demi memperkuat peran mahasiswa dalam pembangunan kampus. Sinergi antara pimpinan universitas dan organisasi kemahasiswaan dinilai menjadi kunci dalam menciptakan UKIM yang lebih maju dan berkualitas.
“Ini bukan hanya tentang SMU UKIM, tapi tentang masa depan UKIM. Mari kita bekerja sama untuk membuat UKIM menjadi universitas yang lebih baik,” tutup Angklin.
Ia pun menegaskan bahwa perubahan sejati hanya dapat terwujud melalui kesadaran dan tindakan nyata dari semua pihak. “Perubahan dimulai dari diri sendiri, dan aksi nyata adalah kunci untuk mencapai perubahan itu,” pungkasnya. (EH)










