Ketika Negara Menolak Mengingat, Vigel Faubun: Negara Ini Terlalu Pandai Berpidato Tentang Persatuan

Rabu, 12 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ambon | Maluku.Newsline.id – Setelah ditetapkan 10 pahlawan nasional baru melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK Tahun 2025, gelombang protes muncul dari masyarakat wilayah timur Indonesia atas tidak tercantumnya nama Abdul Muthalib Sangadji sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Pemuda dan juga aktivis Maluku Vigel Faubun angkat suara dari timur nusantara, ia menilai pemerintah tidak mengakui perjuangan A.M. Sangadji dengan berbagai pengorbanannya.
“Negara ini terlalu pandai berpidato tentang persatuan, tapi gagap saat harus mengakui darah yang menetes dari Timur. Nama A.M. Sangadji dibiarkan berkarat di tepi ingatan bangsa, sebuah ironi dari republik yang katanya merdeka atas pengorbanan semua anak negeri” ujar Faubun kepada media ini Selasa (11/11/2025).IMG 20251111 WA0000

Faubun kecewa atas tidak dicantumkan nama A.M Sangadji sebagai pahlawan nasional dan mempertanyakan eksistensi wilayah timur Indonesia. “Apakah Maluku bukan bagian dari Indonesia? Apakah darah dari Rohomoni kurang merah untuk diakui sebagai darah perjuangan? Ataukah pahlawan hanya mereka yang wafat di tengah hiruk-pikuk Tanah Jawa, sementara yang berjuang di tepi Nusantara cukup disebut tokoh lokal? “Kesalnya.

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, negara menolak memberi gelar Pahlawan Nasional kepada A.M. Sangadji, tapi tanpa malu meminjam semangatnya untuk pidato 17 Agustus. Mereka membangun monumen, menulis prasasti, namun lupa menulis keadilan dalam hati. “Ini bukan kelalaian, ini adalah bentuk kesombongan dan pembunuhan sejarah” tegasnya.

Pemerintah Provinsi dinilai tak mampu memperjuangkan jati diri Maluku sebagai identitas dan warisan perjuangan yang tenggelam. “Lebih menyakitkan lagi, pemerintah provinsi Maluku pun seperti kehilangan keberanian. Mereka bicara tentang “identitas Maluku”, tapi membiarkan warisan perjuangan terbenam di arsip kementerian” ujarnya.

Lanjutnya, “Mereka berfoto di depan monumen Sangadji, namun tak berani mengetuk keras pintu negara untuk menuntut pengakuan. Mereka lebih sibuk pada proyek, bukan perjuangan. Lebih gemar merayakan nama, daripada menegakkan makna” tambahnya.
Padahal, A.M. Sangadji bukan sekadar nama.

Ia adalah harga diri Maluku, bukti bahwa kepintaran dan keberanian tidak lahir dari istana, melainkan dari tanah dan laut yang tahu arti kehilangan.
Ketika negara menolak mengangkat Sangadji sebagai pahlawan nasional, itu bukan hanya penghinaan bagi satu nama, tetapi penghinaan bagi seluruh sejarah timur Indonesia yang terus ditempatkan di ruang tunggu kemerdekaan.

“Mereka menunda pengakuan, seakan keadilan bisa disimpan dalam laci pejabat. Namun sejarah tak menunggu. Ia mencatat dan akan menulis, bahwa suatu hari bangsa ini akan diadili oleh ingatannya sendiri” ungkapnya.

Faubun berharap masyarakat timur khususnya Maluku terus mengatakan kebenaran dan melayangkan nama A.M. Sangadji sebagai sosok pahlawan nasional dari timur Indonesia disaat pemerintah menutup mata.

“Negara boleh menolak, pemerintah daerah boleh diam, tapi rakyat Maluku seng akan lupa. Karena di dada tiap anak Haruku, nama A.M. Sangadji bukan sekadar gelar, ia adalah amarah yang diwariskan,
dan panggilan untuk menulis ulang sejarah dengan tinta kebenaran yang tak bisa disensor” pungkasnya. (EH).

Follow WhatsApp Channel maluku.newsline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ambon Naik Peringkat, Kini Masuk 10 Besar Kota Paling Toleran di Indonesia
Sorotan Anggaran TP PKK SBB, Aldi: Jangan Bangun Opini Tanpa Data
Salah Tangkap Victor Parera, Polisi Minta Maaf, Publik Pertanyakan Sikap Resmi Institusi
Klarifikasi Dugaan Salah Tangkap di Maluku Tengah Viral di Facebook, Keluarga Minta Pemulihan Nama Baik
Aksi GMNI Ambon: Kejati Maluku Diminta Serius Tangani Dugaan Korupsi PT Kalwedo
Beberapa Lokasi Alami Terminasi Jaringan, Pemda MBD: Dampak Efisiensi Anggaran Pempus
Kominfo MBD Memilih Bungkam, Terkait Jaringan XL Di Desa Hila, IKHSO-Ambon: DPRD Segera Turun Tangan
Dugaan Penyimpangan Miliaran di BPKAD Ambon, JBB Maluku Ajak Aksi dan Desak Pemeriksaan Eks dan Pejabat Aktif
Berita ini 66 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 08:14 WIT

Ambon Naik Peringkat, Kini Masuk 10 Besar Kota Paling Toleran di Indonesia

Sabtu, 18 April 2026 - 20:35 WIT

Sorotan Anggaran TP PKK SBB, Aldi: Jangan Bangun Opini Tanpa Data

Kamis, 16 April 2026 - 14:58 WIT

Klarifikasi Dugaan Salah Tangkap di Maluku Tengah Viral di Facebook, Keluarga Minta Pemulihan Nama Baik

Kamis, 9 April 2026 - 22:02 WIT

Aksi GMNI Ambon: Kejati Maluku Diminta Serius Tangani Dugaan Korupsi PT Kalwedo

Selasa, 7 April 2026 - 19:44 WIT

Beberapa Lokasi Alami Terminasi Jaringan, Pemda MBD: Dampak Efisiensi Anggaran Pempus

Berita Terbaru

Suko Wahyudi. Pegiat Literasi, tinggal di Yogyakarta

OPINI

Partai Politik, Oligarki, dan Rapuhnya Makna Perkaderan

Rabu, 22 Apr 2026 - 13:19 WIT

Rifat, Mahasiswa Pancasarja Ilmu Politik Universitas

NASIONAL

Jurang Ekonomi Melebar di Tengah Kenaikan Biaya Hidup

Minggu, 19 Apr 2026 - 15:51 WIT