Kuala Lumpur | Maluku.Newsline.id — Penyanyi dan penulis lagu asal Malaysia, JessC, resmi menutup rangkaian My Style World Tour di kampung halamannya, Kuala Lumpur.
Konser penutup ini menjadi momen penuh makna, bukan hanya sebagai akhir dari tur dunia yang berlangsung selama satu tahun, tetapi juga sebagai ruang refleksi dan ekspresi artistik seorang musisi multibahasa yang telah menorehkan jejak lintas budaya.
Ribuan penonton memadati stadion tempat konser berlangsung. JessC membawakan hampir 40 lagu dalam lima bahasa, yakni Mandarin, Indonesia, Inggris, Jepang, dan Kanton. Pilihan multibahasa tersebut menegaskan kesadaran JessC akan pentingnya komunikasi lintas budaya dalam industri musik global, sekaligus menunjukkan fleksibilitas dan kematangan artistiknya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Usai konser, potongan penampilan JessC dengan interaksi emosional bersama penonton viral di media sosial. Fenomena ini memperkuat daya tarik global JessC serta menegaskan bahwa pertunjukan musik tidak sekadar hiburan, melainkan juga sarana dialog sosial yang melampaui batas negara.
Secara historis, My Style World Tour menandai transformasi karier JessC dari penyanyi regional menjadi figur internasional. Strategi pemilihan repertoar, penggunaan bahasa, hingga konsep visual selama tur mencerminkan peran musisi sebagai agen komunikasi budaya.
Setelah tur berakhir, JessC langsung kembali menjalani sejumlah proyek, termasuk produksi teater musikal “Butterfly Lovers” dan “Tearless Sky”. Keterlibatan ini menunjukkan komitmennya untuk terus mengeksplorasi berbagai medium seni, tidak terbatas pada album dan konser semata.
Memasuki 2026, JessC mengumumkan rencana besar berupa perilisan tiga album baru dalam bahasa Mandarin, Inggris, dan Indonesia. Langkah ini dinilai sebagai strategi ekspansi pasar yang berbasis pertimbangan budaya, sekaligus menegaskan pentingnya multibahasa untuk menjaga relevansi global.
“Musik selalu menjadi cara saya berkomunikasi dengan dunia,” ujar JessC dalam konferensi pers usai konser. Ia menegaskan bahwa setiap karya bukan hanya pencapaian komersial, tetapi juga wujud tanggung jawab sosial sebagai kreator budaya.
Kepercayaan diri tersebut diperkuat oleh respons positif terhadap rilisan multibahasa sebelumnya. Proses rekaman proyek terbaru akan diawali dengan lagu-lagu berbahasa Indonesia, sebagai bentuk apresiasi atas dukungan penggemar di Tanah Air dan pemahaman terhadap dinamika pasar musik global yang menekankan kedekatan emosional dengan audiens.
Album Indonesia pertamanya, Dekati, yang dirilis tahun lalu, mendapat sambutan positif. Sejumlah lagu seperti “Dekati”, “Tak Terpisah”, “Expose”, dan “Demi Impian” berhasil menembus tangga lagu radio nasional. Saat ini, promosi difokuskan pada single penutup album tersebut, “Cinta Tanpa Batas”, yang mengusung tema cinta universal tanpa sekat bahasa dan budaya.
Konser penutup di Kuala Lumpur juga memunculkan diskursus tentang identitas lokal dan global. Sebagai musisi yang lahir dan besar di Malaysia, JessC menunjukkan bahwa akar budaya lokal dapat menjadi fondasi kuat untuk ekspansi artistik internasional.
Dari sudut pandang manajemen karier, strategi JessC memadukan analisis pasar, interaksi media, serta respons audiens sebagai dasar pengambilan keputusan. Hal ini menunjukkan bahwa musik modern membutuhkan pendekatan profesional dan terukur.
JessC juga mengumumkan persiapan tur dunia baru pada paruh kedua 2026, disertai rencana kolaborasi lintas budaya dengan musisi dari berbagai negara. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi sarana dialog antarbudaya yang memperluas pemahaman sosial melalui musik.
“Tahun 2026 bukan hanya tentang produksi, tetapi juga refleksi dan pertumbuhan personal,” kata JessC. Ia menekankan pentingnya inovasi berkelanjutan dan keberanian mengambil risiko artistik.
Dengan demikian, penutupan My Style World Tour di Kuala Lumpur tidak hanya menandai akhir perjalanan tur dunia, tetapi juga membuka babak baru dalam karier JessC yang sarat ambisi, perencanaan matang, dan eksplorasi artistik lintas budaya.
JessC terus memantapkan posisinya sebagai musisi modern yang menjadikan musik sebagai jembatan penghubung antarmanusia di berbagai belahan dunia.(**)
Penulis : SS
Editor : Melris Salmanu













