Seram Bagian Barat | Maluku.Newsline.id — Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ambon melalui GMKI Komisariat IAKN melaksanakan kegiatan Live In di Negeri Lohia Sapalewa, sebuah negeri di wilayah pegunungan yang hingga kini masih menghadapi persoalan serius terkait keterbatasan infrastruktur jalan dan jaringan komunikasi.
Ketua Panitia Live In, Megi Lesibjanan, menjelaskan bahwa perjalanan menuju lokasi kegiatan bukanlah hal mudah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Untuk sampai ke Negeri Lohia Sapalewa rombongan harus menempuh perjalanan laut selama sekitar dua jam, kemudian dilanjutkan jalur darat hampir enam jam dengan kondisi jalan yang rusak, sempit, dan sebagian besar belum beraspal. Bahkan pada titik tertentu kendaraan tidak bisa melintas sehingga kami terpaksa berjalan kaki,” ungkap Lesibjanan kepada media ini Jumat (19/12/2025).
Medan semakin berat ketika rombongan menuruni jalur terjal menuju kaki gunung di kawasan pertemuan aliran Kali Papa dan Air Sapalewa. Dari titik tersebut, akses menuju negeri hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki menaiki gunung sejauh kurang lebih tiga kilometer melalui jalur tanah licin dan minim pengaman.
“Ini bukan sekadar pengalaman lapangan bagi GMKI, tetapi kenyataan yang setiap hari dihadapi masyarakat Negeri Lohia Sapalewa. Mereka hidup dalam keterbatasan akses, namun tetap bertahan dengan segala kesederhanaan dan kekuatan mereka,” jelas Lesibjanan.
Keterbatasan infrastruktur jalan berdampak langsung pada akses masyarakat terhadap layanan dasar. Warga harus menempuh perjalanan jauh untuk menjangkau pusat kecamatan, layanan kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi harian. Sementara itu, jaringan telekomunikasi di wilayah ini masih sangat terbatas dan tidak stabil.
“Warga sering kesulitan berkomunikasi, bahkan untuk kebutuhan mendesak sekalipun. Ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur belum sepenuhnya menyentuh wilayah-wilayah terpencil seperti Lohia Sapalewa,” tegasnya.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, GMKI tetap melaksanakan berbagai program pelayanan yang mencakup bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan kebudayaan. Kegiatan tersebut antara lain sosialisasi pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi bagi siswa SMP, edukasi kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab tanpa terjerat UU ITE, pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, evaluasi Sekolah Minggu, *outbound* siswa SD, pendampingan administrasi guru PAUD, serta pelatihan pembuatan Alat Permainan Edukatif (APE).
“Kami berusaha memberikan pelayanan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Pendidikan anak, perlindungan perempuan dan anak, literasi digital, itu semua kami rasa sangat penting,” jelasnya.
Di bidang kesehatan, dilaksanakan sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), praktik cuci tangan, serta pemeriksaan kesehatan gratis meliputi cek gula darah, kolesterol, dan asam urat.
“Kegiatan kesehatan ini menjadi perhatian utama karena akses layanan kesehatan masyarakat di sini sangat terbatas. Jadi kehadiran kami harus benar-benar memberi manfaat langsung,” tuturnya.
GMKI juga mendorong pemberdayaan masyarakat melalui edukasi pertanian organik, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pembuatan bedeng, serta penanaman sayur bersama warga. Pada bidang kebudayaan, dilakukan dialog musik tradisional dan pembuatan suling bambu serta alat musik bambu lainnya.
“Kami ingin masyarakat tetap berdaya, tidak hanya secara ekonomi tetapi juga secara budaya. Identitas lokal harus tetap dijaga meski wilayah ini jauh dari akses pembangunan modern,” kata Lesibjanan.
Di akhir penyampaiannya, Megi berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi wilayah tersebut.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menyuarakan bahwa ada saudara-saudara kita yang masih hidup dalam keterisolasian panjang. Pemerintah perlu hadir melalui perbaikan jalan, akses komunikasi, dan fasilitas dasar lainnya. Masyarakat Lohia Sapalewa berhak mendapatkan layanan yang sama dengan wilayah lainnya,” pungkasnya. (QH)
Penulis : Angklin Ahwalam
Editor : Eston Halamury
Sumber Berita: Maluku.Newsline.id











