GMKI IAKN Ambon Sentuh Warga Terpencil, Bongkar Fakta Keterisolasian Negeri Lohia Sapalewa

Jumat, 19 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seram Bagian Barat | Maluku.Newsline.id — Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ambon melalui GMKI Komisariat IAKN melaksanakan kegiatan Live In di Negeri Lohia Sapalewa, sebuah negeri di wilayah pegunungan yang hingga kini masih menghadapi persoalan serius terkait keterbatasan infrastruktur jalan dan jaringan komunikasi.

 

Ketua Panitia Live In, Megi Lesibjanan, menjelaskan bahwa perjalanan menuju lokasi kegiatan bukanlah hal mudah.

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Untuk sampai ke Negeri Lohia Sapalewa rombongan harus menempuh perjalanan laut selama sekitar dua jam, kemudian dilanjutkan jalur darat hampir enam jam dengan kondisi jalan yang rusak, sempit, dan sebagian besar belum beraspal. Bahkan pada titik tertentu kendaraan tidak bisa melintas sehingga kami terpaksa berjalan kaki,” ungkap Lesibjanan kepada media ini Jumat (19/12/2025).

 

Medan semakin berat ketika rombongan menuruni jalur terjal menuju kaki gunung di kawasan pertemuan aliran Kali Papa dan Air Sapalewa. Dari titik tersebut, akses menuju negeri hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki menaiki gunung sejauh kurang lebih tiga kilometer melalui jalur tanah licin dan minim pengaman.

“Ini bukan sekadar pengalaman lapangan bagi GMKI, tetapi kenyataan yang setiap hari dihadapi masyarakat Negeri Lohia Sapalewa. Mereka hidup dalam keterbatasan akses, namun tetap bertahan dengan segala kesederhanaan dan kekuatan mereka,” jelas Lesibjanan.

 

Keterbatasan infrastruktur jalan berdampak langsung pada akses masyarakat terhadap layanan dasar. Warga harus menempuh perjalanan jauh untuk menjangkau pusat kecamatan, layanan kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi harian. Sementara itu, jaringan telekomunikasi di wilayah ini masih sangat terbatas dan tidak stabil.

“Warga sering kesulitan berkomunikasi, bahkan untuk kebutuhan mendesak sekalipun. Ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur belum sepenuhnya menyentuh wilayah-wilayah terpencil seperti Lohia Sapalewa,” tegasnya.

IMG 20251219 WA0068

Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, GMKI tetap melaksanakan berbagai program pelayanan yang mencakup bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan kebudayaan. Kegiatan tersebut antara lain sosialisasi pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi bagi siswa SMP, edukasi kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab tanpa terjerat UU ITE, pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, evaluasi Sekolah Minggu, *outbound* siswa SD, pendampingan administrasi guru PAUD, serta pelatihan pembuatan Alat Permainan Edukatif (APE).

“Kami berusaha memberikan pelayanan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Pendidikan anak, perlindungan perempuan dan anak, literasi digital, itu semua kami rasa sangat penting,” jelasnya.

 

Di bidang kesehatan, dilaksanakan sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), praktik cuci tangan, serta pemeriksaan kesehatan gratis meliputi cek gula darah, kolesterol, dan asam urat.

“Kegiatan kesehatan ini menjadi perhatian utama karena akses layanan kesehatan masyarakat di sini sangat terbatas. Jadi kehadiran kami harus benar-benar memberi manfaat langsung,” tuturnya.

 

GMKI juga mendorong pemberdayaan masyarakat melalui edukasi pertanian organik, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pembuatan bedeng, serta penanaman sayur bersama warga. Pada bidang kebudayaan, dilakukan dialog musik tradisional dan pembuatan suling bambu serta alat musik bambu lainnya.

“Kami ingin masyarakat tetap berdaya, tidak hanya secara ekonomi tetapi juga secara budaya. Identitas lokal harus tetap dijaga meski wilayah ini jauh dari akses pembangunan modern,” kata Lesibjanan.

 

Di akhir penyampaiannya, Megi berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi wilayah tersebut.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menyuarakan bahwa ada saudara-saudara kita yang masih hidup dalam keterisolasian panjang. Pemerintah perlu hadir melalui perbaikan jalan, akses komunikasi, dan fasilitas dasar lainnya. Masyarakat Lohia Sapalewa berhak mendapatkan layanan yang sama dengan wilayah lainnya,” pungkasnya. (QH)

Penulis : Angklin Ahwalam

Editor : Eston Halamury

Sumber Berita: Maluku.Newsline.id

Follow WhatsApp Channel maluku.newsline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gempa Magnitudo 2,6 Guncang Perairan Seram Bagian Barat
GMNI SBB Dorong Kejaksaan Tuntaskan Penanganan Dugaan Kasus Korupsi Dana Desa di Desa Ahiolo-Abio
Nelayan Desa Kawa Ditemukan Selamat Setelah Dua Hari Hilang di Laut
Pemuda Diduga Keroyok Warga Honitetu di Rumberu, Keluarga Minta Polisi Bertindak
Potensi Besar, Akses Terbatas: Warga Taniwel Timur Harap Perbaikan Jalan Tani
Tradisi Koinonia Hidupkan Gotong Royong, Warga Waraloin dan Uwen Bangun Rumah Bersama
Sorotan Anggaran TP PKK SBB, Aldi: Jangan Bangun Opini Tanpa Data
Konflik Antarwarga Terjadi di SBB, Diduga Berawal dari Ucapan Menghina dan Aksi Ugal-ugalan
Berita ini 109 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 02:06 WIT

Gempa Magnitudo 2,6 Guncang Perairan Seram Bagian Barat

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:50 WIT

GMNI SBB Dorong Kejaksaan Tuntaskan Penanganan Dugaan Kasus Korupsi Dana Desa di Desa Ahiolo-Abio

Kamis, 28 Mei 2026 - 17:28 WIT

Nelayan Desa Kawa Ditemukan Selamat Setelah Dua Hari Hilang di Laut

Rabu, 13 Mei 2026 - 15:10 WIT

Pemuda Diduga Keroyok Warga Honitetu di Rumberu, Keluarga Minta Polisi Bertindak

Selasa, 28 April 2026 - 19:32 WIT

Potensi Besar, Akses Terbatas: Warga Taniwel Timur Harap Perbaikan Jalan Tani

Berita Terbaru