Kab. MBD | Maluku.Newsline.id – Seorang anggota DPRD Kabupaten Maluku Barat Daya Winnetou Akse mengungkapkan kekecewaan dan kemarahannya atas penanganan pasien rujukan yang diangkut menggunakan Kapal Sabuk Nusantara 34 tanpa pendamping tenaga medis. Peristiwa itu terjadi saat dirinya baru saja kembali dari kunjungan kerja dan berada di atas kapal.
“Beta (saya) kemarin baru pulang kunjungan kerja dan melakukan perjalanan dengan Kapal Sabuk Nusantara 34. Di atas kapal beta mendapat laporan dari Kep kapal bahwa ada pasien yang diantar dalam kondisi infus terpasang, namun tanpa didampingi perawat,” ungkap Akse kepada wartawan Senin (15/12/2025)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah melakukan konfirmasi, diketahui bahwa pasien tersebut bukan berasal dari Puskesmas Leturung, melainkan pasien rujukan dari Puskesmas Ahanari. Ia pun meminta Kepala Puskesmas Leturung untuk menghubungi pihak Puskesmas Ahanari agar ada tenaga kesehatan yang mendampingi pasien.
“Setelah dikonfirmasi, datang dua pegawai Puskesmas Ahnari, yakni perawat Yuni dan Leilihematang. Namun informasi yang kami terima, kepala puskesmas justru marah dan tidak mengizinkan pegawainya untuk mengantar pasien,” jelasnya.
Ia bahkan menyebut, kepala Puskesmas Ahanari memarahi perawat yang hendak memasang oksigen kepada pasien karena dianggap tidak melakukan konfirmasi terlebih dahulu.
“Bahkan oksigen yang dikeluarkan untuk pasien saja dipermasalahkan. Ini sungguh tidak masuk akal dan tidak manusiawi,” tegasnya.
Karena tidak ada tenaga medis yang diizinkan mendampingi pasien, dirinya mengambil inisiatif untuk menghubungi Kepala Dinas Kesehatan. Atas perintah Kadinkes, perawat Yuni akhirnya diminta untuk mendampingi pasien, meskipun hanya sampai titik tertentu karena alasan keluarga.
“Perawat Yuni hanya bisa mendampingi dari Pelabuhan Kroing, Daulor, sampai Dai. Rencananya di Tepa akan ada tenaga kesehatan lain yang menggantikan, namun kenyataannya tidak ada satu pun petugas yang datang,” katanya.
Akibat kondisi tersebut, pasien yang masih terpasang infus akhirnya terpaksa diturunkan di Pelabuhan Tepa tanpa pendamping medis.
“Pasien dalam kondisi infus, lalu siapa yang mau mengawasi di kapal? Disitulah yang bikin beta marah,” ujarnya.
Ia menegaskan telah berkoordinasi dengan Komisi I, II, dan III DPRD untuk segera menggelar rapat dengar pendapat lintas komisi bersama Dinas Kesehatan dan Pemerintah Daerah, termasuk Sekretaris Daerah. Dalam rapat tersebut, Kepala Puskesmas Ahanari serta dua tenaga kesehatan yang disebutkan akan dipanggil untuk memberikan klarifikasi secara terbuka.
“Semua harus terang benderang di hadapan publik. Kepala puskesmas ini menurut beta kurang ajar, tidak punya etika, tidak punya sopan santun, dan tidak punya rasa kemanusiaan,” tutupnya. (EH)
Penulis : Eston Halamury














