Seniman Jalanan Vigel Faubun Soroti Praktik ‘Kwitansi Kosong’, Serukan Penghargaan Layak bagi Pelaku Seni

Minggu, 15 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ambon | Maluku.Newsline.id — Seniman jalanan asal Maluku, Vigel Faubun, menyampaikan keprihatinannya terhadap praktik yang dinilai tidak sehat dalam dunia seni, khususnya terkait kebiasaan meminta seniman menandatangani kwitansi kosong dalam berbagai kegiatan seni. Menurutnya, praktik tersebut bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan menyangkut penghargaan terhadap karya kreatif dan martabat para pelaku seni.

Vigel mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengalami langsung situasi tersebut dalam sebuah kegiatan seni. Saat itu, ia diminta untuk menandatangani sebuah kwitansi tanpa nominal yang jelas. Permintaan itu membuatnya merasa tidak nyaman karena, menurutnya, setiap hal yang berkaitan dengan karya dan kerja seniman seharusnya dilakukan secara terbuka, jujur, dan transparan.

“Saya percaya bahwa kerja seni harus dihargai dengan cara yang jelas dan terbuka. Ketika diminta menandatangani kwitansi kosong, saya merasa hal itu tidak menghargai proses dan kerja kreatif yang telah dilakukan,” ujar Vigel Minggu (15/3/2026).

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menjelaskan bahwa seni bukan sekadar hiburan yang ditampilkan di atas panggung. Di balik sebuah tarian, lagu, atau pertunjukan, terdapat proses panjang yang sering tidak terlihat oleh publik. Proses tersebut meliputi waktu latihan, tenaga, pikiran, hingga dedikasi para seniman untuk terus menjaga tradisi dan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Karena merasa praktik tersebut tidak tepat, Vigel memilih untuk menolak menandatangani kwitansi kosong tersebut. Baginya, keputusan itu merupakan bentuk menjaga harga diri sebagai seorang seniman.

Namun setelah kejadian tersebut, ia mengaku merasakan adanya perubahan dalam kesempatan berkarya. Beberapa peluang untuk tampil atau terlibat dalam kegiatan seni, menurutnya, menjadi semakin berkurang.

“Pengalaman itu menjadi refleksi bagi saya bahwa masih ada hal-hal dalam dunia seni yang perlu diperbaiki bersama,” katanya.

Meski demikian, Vigel menegaskan bahwa pernyataannya bukan untuk menyalahkan pihak tertentu. Ia lebih ingin mengajak semua pihak untuk kembali melihat bagaimana cara menghargai seni dan para pelaku seni secara lebih adil.

Menurutnya, seni merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Maluku. Tarian, musik, dan berbagai bentuk ekspresi seni bukan hanya hiburan, tetapi juga warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Ia menambahkan bahwa para seniman, baik yang tampil di panggung besar maupun yang berkarya di jalanan dan ruang-ruang kecil, memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan budaya tersebut.

Melalui pengalamannya, Vigel menyampaikan pesan sederhana yang sekaligus menjadi kritik dan pengingat bagi semua pihak.

“Jang bayar seni deng kwitansi kosong,” tegasnya.

Pesan itu, menurutnya, bukan hanya berkaitan dengan pengalaman pribadi, tetapi juga merupakan harapan agar ke depan ada penghargaan yang lebih layak, transparan, dan jujur bagi para seniman.

Vigel percaya bahwa ketika seniman dihargai dengan baik, maka secara tidak langsung masyarakat juga sedang menjaga dan menghargai budaya mereka sendiri. Sebab di balik setiap tarian, lagu, dan karya seni yang dinikmati publik, terdapat jiwa serta dedikasi para seniman yang terus berupaya menjaga agar budaya Maluku tetap hidup dan berkembang. (*)

Editor : Eston Halamury

Follow WhatsApp Channel maluku.newsline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Masyarakat Negeri Buano Desak Gubernur Maluku Realisasikan Janji Puskesmas Rawat Inap
Saniri Alifuru: Konservasi Jangan Marginalkan Masyarakat Adat
GEMA PENU SETARA Kritik Pertemuan 11 Raja Negeri, Minta Masyarakat Adat Dilibatkan dalam Penyelesaian Konservasi
Mahasiswa MBD Soroti Polemik Anggaran Kelistrikan Rp9 Triliun di Maluku, Dorong Transparansi
Pemprov Maluku Apresiasi Pengawalan Mahasiswa MBD terhadap Tenaga Kerja Lokal Blok Masela
Pastikan Tenaga Kerja Lokal pada Pengembangan Blok Masela, GEMA MBD, GMBK dan Ketua Paguyuban se-Kabupaten MBD Audiensi dengan Disnakertrans Provinsi Maluku
Skandal Anggaran Publikasi Pemkot Ambon Rp13,6 Miliar Disorot, Mahasiswa Desak Kejati Maluku Usut Temuan BPK
Valentino Manduapessy Soroti Prioritas APBN: MBG dan Kopdes Berjalan, Penanganan Bencana NTT Jangan Terabaikan
Berita ini 209 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 22:44 WIT

Masyarakat Negeri Buano Desak Gubernur Maluku Realisasikan Janji Puskesmas Rawat Inap

Senin, 7 September 2026 - 09:51 WIT

Saniri Alifuru: Konservasi Jangan Marginalkan Masyarakat Adat

Kamis, 3 September 2026 - 22:53 WIT

Mahasiswa MBD Soroti Polemik Anggaran Kelistrikan Rp9 Triliun di Maluku, Dorong Transparansi

Selasa, 1 September 2026 - 23:24 WIT

Pemprov Maluku Apresiasi Pengawalan Mahasiswa MBD terhadap Tenaga Kerja Lokal Blok Masela

Selasa, 1 September 2026 - 22:52 WIT

Pastikan Tenaga Kerja Lokal pada Pengembangan Blok Masela, GEMA MBD, GMBK dan Ketua Paguyuban se-Kabupaten MBD Audiensi dengan Disnakertrans Provinsi Maluku

Berita Terbaru