Ambon | Maluku.Newsline.id — Seniman jalanan asal Maluku, Vigel Faubun, menyampaikan keprihatinannya terhadap praktik yang dinilai tidak sehat dalam dunia seni, khususnya terkait kebiasaan meminta seniman menandatangani kwitansi kosong dalam berbagai kegiatan seni. Menurutnya, praktik tersebut bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan menyangkut penghargaan terhadap karya kreatif dan martabat para pelaku seni.
Vigel mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengalami langsung situasi tersebut dalam sebuah kegiatan seni. Saat itu, ia diminta untuk menandatangani sebuah kwitansi tanpa nominal yang jelas. Permintaan itu membuatnya merasa tidak nyaman karena, menurutnya, setiap hal yang berkaitan dengan karya dan kerja seniman seharusnya dilakukan secara terbuka, jujur, dan transparan.
“Saya percaya bahwa kerja seni harus dihargai dengan cara yang jelas dan terbuka. Ketika diminta menandatangani kwitansi kosong, saya merasa hal itu tidak menghargai proses dan kerja kreatif yang telah dilakukan,” ujar Vigel Minggu (15/3/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan bahwa seni bukan sekadar hiburan yang ditampilkan di atas panggung. Di balik sebuah tarian, lagu, atau pertunjukan, terdapat proses panjang yang sering tidak terlihat oleh publik. Proses tersebut meliputi waktu latihan, tenaga, pikiran, hingga dedikasi para seniman untuk terus menjaga tradisi dan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Karena merasa praktik tersebut tidak tepat, Vigel memilih untuk menolak menandatangani kwitansi kosong tersebut. Baginya, keputusan itu merupakan bentuk menjaga harga diri sebagai seorang seniman.
Namun setelah kejadian tersebut, ia mengaku merasakan adanya perubahan dalam kesempatan berkarya. Beberapa peluang untuk tampil atau terlibat dalam kegiatan seni, menurutnya, menjadi semakin berkurang.
“Pengalaman itu menjadi refleksi bagi saya bahwa masih ada hal-hal dalam dunia seni yang perlu diperbaiki bersama,” katanya.
Meski demikian, Vigel menegaskan bahwa pernyataannya bukan untuk menyalahkan pihak tertentu. Ia lebih ingin mengajak semua pihak untuk kembali melihat bagaimana cara menghargai seni dan para pelaku seni secara lebih adil.
Menurutnya, seni merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Maluku. Tarian, musik, dan berbagai bentuk ekspresi seni bukan hanya hiburan, tetapi juga warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Ia menambahkan bahwa para seniman, baik yang tampil di panggung besar maupun yang berkarya di jalanan dan ruang-ruang kecil, memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan budaya tersebut.
Melalui pengalamannya, Vigel menyampaikan pesan sederhana yang sekaligus menjadi kritik dan pengingat bagi semua pihak.
“Jang bayar seni deng kwitansi kosong,” tegasnya.
Pesan itu, menurutnya, bukan hanya berkaitan dengan pengalaman pribadi, tetapi juga merupakan harapan agar ke depan ada penghargaan yang lebih layak, transparan, dan jujur bagi para seniman.
Vigel percaya bahwa ketika seniman dihargai dengan baik, maka secara tidak langsung masyarakat juga sedang menjaga dan menghargai budaya mereka sendiri. Sebab di balik setiap tarian, lagu, dan karya seni yang dinikmati publik, terdapat jiwa serta dedikasi para seniman yang terus berupaya menjaga agar budaya Maluku tetap hidup dan berkembang. (*)
Editor : Eston Halamury










