Kab. Malteng | Maluku.Newsline.id – Kondisi darurat harus dialami oleh warga Negeri Kaloa, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah. Seorang warga bernama Demi Timanoyo (57) yang sedang sakit parah terpaksa ditandu secara manual menuju Puskesmas Wahai pada Selasa (9/12/2025) karena akses jalan menuju fasilitas kesehatan rusak parah dan tak dapat dilalui kendaraan.
Pasien dibawa menggunakan kain yang diikat pada bambu sebagai tandu darurat. Dalam video yang diterima redaksi, tampak belasan warga bergantian memikul pasien melewati jalan berlubang, penuh lumpur, dan licin. Akses satu-satunya menuju pusat pelayanan kesehatan itu harus mereka tempuh dengan berjalan kaki selama berjam-jam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekretaris Negeri Kaloa, Johanis Atuany, menyampaikan keprihatinannya yang mendalam dan secara tegas mendesak perhatian pemerintah.
“Kami himbau kepada pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pemerintah pusat, bahkan sampai kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto agar bisa memperhatikan jalan kami,” tegas Atuany.
“Sebab setiap kali ada warga yang sakit, kami harus pikul dengan tandu dan berjalan kaki. Ini bukan yang pertama. Sudah terlalu sering warga kami harus mempertaruhkan nyawa di jalan.”
Atuany juga menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan sekadar persoalan akses, tetapi menyangkut hak dasar masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.
Sementara itu, Hanok Ipapoto, salah satu pemuda yang ikut menandu pasien, menceritakan perjuangan mereka.
“Kami sekitar 16 orang yang melakukan tandu darurat untuk pasien tersebut. Kami keluar dari kampung sekitar jam 08.48 WIT dan tiba di Desa Siatele jam 13.00 WIT,” ungkapnya.
“Di tengah perjalanan, untung ada satu mobil yang membantu membawa pasien lebih jauh. Kalau tidak, mungkin kami masih di jalan sampai malam.” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa medan yang mereka lalui bukan hanya jauh, tetapi juga sangat berbahaya.
“Kondisinya parah. Kalau hujan, jalan berubah jadi lumpur. Tidak ada pilihan lain. Kalau ada warga yang sakit, kami hanya bisa pasrah dan pikul seperti ini. Ini bukan kemanusiaan yang seharusnya,” tambahnya.
Salah satu pemuda Negeri Kaloa lainnya, Ongen Itihuny, mengungkapkan kondisi terbaru pasien.
“Sekarang pasien masih di Siatele. Besok rencana dibawa ke Puskesmas Wahai. Kalau belum ada perubahan, baru akan dirujuk ke Masohi,” ujarnya.
Peristiwa ini menambah panjang daftar keluhan masyarakat Seram Utara terhadap infrastruktur jalan yang tak kunjung mendapat perhatian serius. Masyarakat berharap kejadian ini menjadi alarm bagi pemerintah bahwa akses jalan bukan sekadar fasilitas, melainkan penentu keselamatan warga pedalaman. (EH)











