Warga Tawiri Resah, Pengerukan Sirtu di Muara Sungai Picu Ancaman Abrasi dan Banjir

Rabu, 25 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ambon | Maluku.Neweline.id — Aktivitas pengerukan pasir dan batu (sirtu) di kawasan muara sungai Desa Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon, memicu kekhawatiran serius di kalangan warga. Kegiatan eksploitasi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak ekologis yang membahayakan keselamatan pemukiman di sekitar bantaran sungai.

Sejumlah warga mengaku kondisi lingkungan berubah sejak pengerukan berlangsung. Mereka khawatir pendalaman dasar sungai secara tidak alami akan mempercepat abrasi dan meningkatkan risiko banjir saat musim penghujan.

IMG 20260225 WA00131

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu warga terdampak, Pay Sipahelut, mengatakan rumahnya sudah kerap kebanjiran bahkan sebelum aktivitas penggalian dimulai. Namun, ia menilai kondisi akan jauh lebih parah jika pengerukan terus berlanjut tanpa penanganan.

“Sebelum penggalian ini dilakukan rumah saya dan beberapa warga lain sudah terdampak banjir saat musim hujan. Air sungai meluap. Dengan adanya penggalian dan tidak ada talud penahan, kami khawatir saat hujan datang rumah bisa terbawa sampai ke laut,” ujarnya saat diwawancarai (23/2)

Kekhawatiran serupa disampaikan Min Hole, warga yang rumahnya hanya berjarak sekitar 3–5 meter dari lokasi galian. Ia menyayangkan sikap Pemerintah dan Saniri Desa Tawiri yang dinilai terkesan membiarkan aktivitas tersebut tanpa solusi jelas.

Menurut warga, pengerukan yang berlangsung terus-menerus di area muara telah menyebabkan pendalaman sungai yang tidak wajar. Kondisi ini memicu pengikisan dinding sungai yang semakin mendekati kawasan permukiman.

Berdasarkan analisis lingkungan, hilangnya material sirtu di muara berarti hilangnya “benteng alami” yang selama ini memecah energi aliran air. Akibatnya, ketika debit sungai meningkat atau terjadi pasang laut, arus air berpotensi langsung menghantam tanah di sekitar permukiman dan memicu longsor maupun amblasnya bangunan.

Seorang warga lain yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebut aktivitas galian telah berlangsung sekitar empat hingga lima bulan sejak 2025. Ia menduga ada pembiaran dari pihak desa.

“Kalau tidak salah sudah dari September 2025. Tidak mungkin staf desa dan saniri tidak tahu. Saya sering lihat ada orang-orang desa dan saniri datang ke lokasi, tapi tidak tahu untuk apa,” ungkapnya.

Selain abrasi, warga kini dihantui meningkatnya risiko banjir. Muara yang telah dikeruk dinilai kehilangan kemampuan mengalirkan air secara stabil. Jika kondisi ini terus dibiarkan, pola arus sungai dikhawatirkan berubah dan air berpotensi meluap ke permukiman saat hujan deras.

Dalam jangka panjang, aktivitas tersebut juga disebut mengancam ekosistem muara yang menjadi habitat biota laut kecil, sekaligus berdampak pada mata pencaharian warga pesisir.

Situasi yang semakin meresahkan membuat warga mendatangi lokasi galian dan meminta pekerja menghentikan aktivitas. Mereka juga bergerak ke Kantor Desa Tawiri untuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah desa dan Saniri.

Ketua RT setempat, William Disera, mengaku sempat terkejut melihat aksi warga. Ia kemudian mengarahkan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara resmi ke kantor desa.

“Ketika melihat keributan saya kaget. Setelah saya konfirmasi, saya arahkan warga untuk bersama-sama mendatangi kantor desa dan menyampaikan tuntutan,” ujarnya.

Dalam pernyataannya, warga menyampaikan tiga tuntutan utama, yakni:

1. Perusahaan atau investor diminta melakukan normalisasi dan peremajaan pada lokasi sungai yang telah dikeruk.

2. Membuka kembali akses jalan warga yang selama ini menjadi jalur pintas untuk aktivitas sekolah, bekerja, dan berkebun.

3. Melakukan pemulihan wilayah sungai yang terdampak pengerukan guna mencegah banjir saat musim hujan.

Warga Desa Tawiri juga mendesak pemerintah daerah serta instansi terkait khususnya Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk segera meninjau legalitas aktivitas pengerukan tersebut.

Masyarakat berharap ada langkah tegas untuk menghentikan kegiatan yang dinilai merusak lingkungan sebelum menimbulkan korban jiwa maupun kerugian material yang lebih besar. (*)

Editor : Eston Halamury

Follow WhatsApp Channel maluku.newsline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Masyarakat Negeri Buano Desak Gubernur Maluku Realisasikan Janji Puskesmas Rawat Inap
Saniri Alifuru: Konservasi Jangan Marginalkan Masyarakat Adat
GEMA PENU SETARA Kritik Pertemuan 11 Raja Negeri, Minta Masyarakat Adat Dilibatkan dalam Penyelesaian Konservasi
Mahasiswa MBD Soroti Polemik Anggaran Kelistrikan Rp9 Triliun di Maluku, Dorong Transparansi
Pemprov Maluku Apresiasi Pengawalan Mahasiswa MBD terhadap Tenaga Kerja Lokal Blok Masela
Pastikan Tenaga Kerja Lokal pada Pengembangan Blok Masela, GEMA MBD, GMBK dan Ketua Paguyuban se-Kabupaten MBD Audiensi dengan Disnakertrans Provinsi Maluku
Skandal Anggaran Publikasi Pemkot Ambon Rp13,6 Miliar Disorot, Mahasiswa Desak Kejati Maluku Usut Temuan BPK
Valentino Manduapessy Soroti Prioritas APBN: MBG dan Kopdes Berjalan, Penanganan Bencana NTT Jangan Terabaikan
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 22:44 WIT

Masyarakat Negeri Buano Desak Gubernur Maluku Realisasikan Janji Puskesmas Rawat Inap

Senin, 7 September 2026 - 09:51 WIT

Saniri Alifuru: Konservasi Jangan Marginalkan Masyarakat Adat

Kamis, 3 September 2026 - 22:53 WIT

Mahasiswa MBD Soroti Polemik Anggaran Kelistrikan Rp9 Triliun di Maluku, Dorong Transparansi

Selasa, 1 September 2026 - 23:24 WIT

Pemprov Maluku Apresiasi Pengawalan Mahasiswa MBD terhadap Tenaga Kerja Lokal Blok Masela

Selasa, 1 September 2026 - 22:52 WIT

Pastikan Tenaga Kerja Lokal pada Pengembangan Blok Masela, GEMA MBD, GMBK dan Ketua Paguyuban se-Kabupaten MBD Audiensi dengan Disnakertrans Provinsi Maluku

Berita Terbaru