Biografi Soekarno: Kelahiran, Proklamasi, dan Akhir Hayat

Sabtu, 6 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Maluku.Newsline.id – Soekarno lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur. Dalam autobiografinya yang dituturkan kepada Cindy Adams, Soekarno menyebut dirinya lahir di Surabaya dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai, seorang perempuan Bali dari kalangan Brahmana. Saat lahir, ia diberi nama Koesno Sosrodihardjo. Namun karena sering sakit-sakitan ketika kecil, namanya kemudian diganti menjadi Soekarno dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” , Soekarno menceritakan masa kecilnya yang hidup di bawah penjajahan Belanda. Ia tumbuh dalam lingkungan sederhana dan sejak kecil telah menyaksikan penderitaan rakyat akibat kolonialisme. Pengalaman tersebut membentuk kesadaran politiknya dan menumbuhkan cita-cita untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan.

Pendidikan Soekarno dimulai di sekolah rakyat, kemudian dilanjutkan ke Europeesche Lagere School (ELS), Hogere Burger School (HBS) di Surabaya, dan akhirnya menempuh pendidikan teknik di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung). Selama tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, ia banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional yang membentuk wawasan kebangsaannya.

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perjuangan dan Proklamasi Kemerdekaan

Soekarno dikenal sebagai tokoh utama pergerakan nasional Indonesia. Pada tahun 1927 ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang bertujuan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Aktivitas politiknya membuat pemerintah kolonial Belanda beberapa kali menangkap dan mengasingkannya ke Ende, Flores, dan kemudian Bengkulu.

Momentum paling bersejarah dalam kehidupan Soekarno terjadi pada Agustus 1945. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, golongan muda mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pada 16 Agustus 1945, keduanya dibawa ke Rengasdengklok untuk mempercepat pengambilan keputusan. Setelah kembali ke Jakarta, Soekarno bersama Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo menyusun naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.

Pada pagi hari, 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB, Soekarno didampingi oleh Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Peristiwa tersebut menandai lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadikan Soekarno sebagai Proklamator sekaligus Presiden pertama Indonesia.

Masa Kepemimpinan

Sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno memimpin bangsa dalam masa-masa yang penuh tantangan, mulai dari mempertahankan kemerdekaan, menghadapi agresi militer Belanda, hingga membangun identitas nasional Indonesia. Ia dikenal sebagai orator ulung yang berhasil membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia. Selain itu, Soekarno juga menggagas Pancasila sebagai dasar negara dan menjadi salah satu tokoh penting dalam gerakan negara-negara berkembang melalui Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.

Akhir Hayat

Memasuki dekade 1960-an, situasi politik Indonesia semakin kompleks. Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, kekuasaan Soekarno perlahan beralih kepada Jenderal Soeharto melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Pada tahun 1967, Soekarno secara resmi diberhentikan dari jabatan Presiden oleh MPRS.

Setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, Soekarno menjalani masa-masa sulit dalam pengasingan politik di Wisma Yaso, Jakarta. Kondisi kesehatannya terus menurun akibat gangguan ginjal dan berbagai penyakit lainnya. Pada 21 Juni 1970, Soekarno meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, pada usia 69 tahun. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, dan hingga kini makamnya menjadi salah satu tempat ziarah nasional yang banyak dikunjungi masyarakat.

Penulis : Eston Halamury

Follow WhatsApp Channel maluku.newsline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pembangunan Setengah Hati dan Keadilan yang Tergadai di MBD
Partai Politik, Oligarki, dan Rapuhnya Makna Perkaderan
Jurang Ekonomi Melebar di Tengah Kenaikan Biaya Hidup
JANGAN TANYA APA YANG NEGARA SUDAH BERIKAN PADAMU❓TAPI TANYA APA YANG NEGARA SUDAH AMBIL DARIMU❗
Pemberhentian Perangkat dan Sekretaris Ohoi Depur Dinilai Cacat Prosedur, Warga Ancam Palang Jalan Jika Pemerintah Terus Bungkam
Warga SBB Tolak Perluasan Lahan PT SIM: Desak Penghentian Aktivitas Abaka di Tengah Konflik Agraria
Camat Kei Besar Diduga Langgar Prosedur, Serahkan SK Perangkat Desa Tanpa Cap Resmi
Anggota TNI Meninggal Dunia Usai Ditikam di Pasar SP 13 Mimika
Berita ini 47 kali dibaca
Sumber; 1. Adams, Cindy. (2018). Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Yogyakarta: Media Pressindo dan Yayasan Bung Karno. ([Marhaen Press][2]) 2. Nugroho, Adji. (2018). Selangkah Lebih Dekat dengan Soekarno. Yogyakarta: Laksana. 3. Wijayati, Hasna. (2018). Soekarnoku, Soekarnomu, Soekarno Kita. Yogyakarta: Araska. 4. Panumbangan, Abraham. (2016). The Uncensored of Bung Karno: Misteri Kehidupan Sang Presiden. Jakarta.

Berita Terkait

Selasa, 28 April 2026 - 12:17 WIT

Pembangunan Setengah Hati dan Keadilan yang Tergadai di MBD

Rabu, 22 April 2026 - 13:19 WIT

Partai Politik, Oligarki, dan Rapuhnya Makna Perkaderan

Minggu, 19 April 2026 - 15:51 WIT

Jurang Ekonomi Melebar di Tengah Kenaikan Biaya Hidup

Minggu, 7 September 2025 - 16:35 WIT

JANGAN TANYA APA YANG NEGARA SUDAH BERIKAN PADAMU❓TAPI TANYA APA YANG NEGARA SUDAH AMBIL DARIMU❗

Rabu, 16 Juli 2025 - 08:03 WIT

Pemberhentian Perangkat dan Sekretaris Ohoi Depur Dinilai Cacat Prosedur, Warga Ancam Palang Jalan Jika Pemerintah Terus Bungkam

Berita Terbaru