Jakarta | Maluku.Newsline.id — Pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jakarta Pusat Pengajian Al-Hidayah periode 2025–2030 menjadi momentum penting dalam penguatan struktur organisasi sekaligus peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan di tingkat nasional. Kegiatan ini berlangsung di Jakarta Pusat, Sabtu (07/02/2026).
Pelantikan tersebut menandai komitmen baru Pengajian Al-Hidayah untuk terus memperluas perannya dalam pembangunan sosial, penguatan nilai keagamaan, serta pemberdayaan keluarga di tengah dinamika masyarakat yang terus berkembang.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Golkar, Basri Baco, S.E., M.M., menegaskan bahwa organisasi perempuan harus memiliki fondasi kepemimpinan yang kokoh agar mampu bertahan dan relevan menghadapi perubahan sosial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menekankan bahwa amanah kepengurusan lima tahun ke depan harus dijalankan dengan profesionalitas, solidaritas, serta orientasi pada manfaat bagi masyarakat.
“Amanah ini bukan hadiah, tetapi tanggung jawab besar. Organisasi hanya akan kuat jika pengurusnya bekerja kompak, ikhlas, dan konsisten memberi manfaat bagi masyarakat DKI Jakarta serta seluruh rakyat Indonesia,” ujar Basri.
Basri juga menyoroti pentingnya peran perempuan sebagai penggerak nilai moral, spiritual, dan ketahanan keluarga. Menurutnya, penguatan karakter serta literasi keluarga merupakan inti dari kiprah dakwah Pengajian Al-Hidayah sejak awal didirikan.
Pada periode kepengurusan baru ini, DPD Pengajian Al-Hidayah Jakarta Pusat menyiapkan tiga fokus utama di setiap wilayah, yakni peningkatan kualitas pengajian, pemberdayaan ekonomi perempuan, serta penguatan tata kelola organisasi melalui sinergi dengan seluruh elemen masyarakat. Basri menyebut kolaborasi sebagai kunci utama untuk memperluas dampak sosial organisasi.
Sementara itu,Sriwaty, S.Pd., selaku Ketua DPD Pengajian Al-Hidayah Jakarta Pusat, menambahkan bahwa kepemimpinan perempuan memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan zaman.
“Pengurus Pengajian Al-Hidayah harus menjadi motor gerakan perempuan yang lebih visioner, terstruktur, dan mampu menggerakkan program-program sosial secara berkelanjutan,” tegasnya.
Ia juga menilai ratusan kader Pengajian Al-Hidayah di masing-masing wilayah merupakan potensi besar yang perlu diperkuat melalui pelatihan, kaderisasi, serta pengembangan kapasitas (capacity building), agar mampu tampil sebagai pemimpin di komunitasnya masing-masing.
Dengan kepengurusan baru yang lebih solid, strategi yang terarah, serta dukungan dari berbagai pihak, Pengajian Al-Hidayah optimistis dapat terus melahirkan perempuan-perempuan pemimpin yang berkontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan pembangunan nasional. (**)
Penulis : SS
Editor : Melris Salmanu










