Ambon | Maluku.Newsline.id – Narapolis Institute bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon menggelar talkshow “Jempol Cerdas Maluku Goes to Campus” di Aula Moderasi IAKN Ambon, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan bertema “Masa Depan Maluku di Era Kecerdasan Artifisial: Nalar Muda, Demokrasi yang Berdaulat” ini menegaskan konsistensi Narapolis memerangi hoaks di media sosial, kini dengan menjadikan kampus sebagai pintu masuk.
Talkshow ini memperluas Program Jempol Cerdas, Maluku, yang selama ini menyasar pelajar, ke jenjang perguruan tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kampus sebagai Ruang Bebas
Dalam sambutan pembukaan, Rektor IAKN Ambon, Dr. Elka Anakotta, M.Si menyambut baik kehadiran Narapolis Institute. “IAKN adalah wadah akademik.
Percakapan intelektual harus dibangun secara bebas di sini,” ujarnya.
Presiden Mahasiswa BEM IAKN Ambon, Oktovianus Isra, berterima kasih kepada Narapolis yang mempercayakan IAKN Ambon sebagai pintu masuk memerangi hoaks di dunia kampus.
Teknologi, Manusia, dan Ekonomi Kreatif
Ketua Komisi III DPRD Provinsi Maluku, Alhidayat Wajo, memaparkan pemanfaatan teknologi untuk menyerap aspirasi warga.
“Pemanfaatan teknologi dalam menyerap aspirasi terus saya lakukan, dengan platform yang sedang saya kembangkan. Ini salah satu bagian dari bagaimana kita memanfaatkan teknologi,” katanya.
Rektor IAKN Ambon mengingatkan bahwa teknologi harus dibarengi kesadaran sebagai manusia.
“Kita yang harus mampu menguasai teknologi, bukan teknologi yang menguasai kita,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, Kabid Pendidikan dan Riset BPD HIPMI Maluku, M. Daud Marasabessy, menyebut AI membuka peluang bagi anak muda Maluku di ekonomi kreatif. “Kita harus produktif, tidak hanya menjadi konsumen,” tegasnya.
Bonus Demografi dan Filter Informasi
Founder Narapolis Institute, Giovani Walewawan, menilai bonus demografi akan menjadi energi baru bagi demokrasi Maluku. Generasi Z, katanya, akan makin banyak terlibat dalam pengambilan kebijakan. “Namun harus dibarengi kemampuan memfilter informasi dan kerajinan memverifikasi informasi yang diterima,” ujarnya.
Dalam penutup, Giovani mengapresiasi para narasumber dan peserta, lalu mengajak mahasiswa membangun kolaborasi berkelanjutan dengan pemerintah, legislatif, dan akademisi.
“Keluarlah dari filter bubble, keluarlah dari echo chamber-mu. Terimalah perbedaan pendapat sebagai bagian dari demokrasi modern,” pesannya.
Diskusi dipandu moderator Natal Belinda Noya dan dilanjutkan tanya jawab interaktif dengan peserta.
Dialektika pun berjalan dengan lancar dengan menggunakan pertanyaan dan jawaban yang konstruktif dari pemantik.
Penulis : Angklin Ahwalam
Editor : Eston Halamury











