Komite Aksi Kamisan Ambon Soroti Konflik Agraria dan Militerisasi di Maluku

Kamis, 24 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ambon | Maluku.Newsline.id — Komite Aksi Kamisan Ambon menyoroti meningkatnya konflik agraria di Maluku yang dinilai berkaitan dengan kebijakan pembangunan, investasi, konservasi, serta perluasan kepentingan pertahanan dan keamanan.

Sorotan tersebut disampaikan lewat aksi unjuk rasa di Bundaran Poka, Monumen Dr. J. Leimena pada Kamis (24/9/2026).

Komite Aksi Kamisan (KAK) Ambon menyebut konflik agraria di sejumlah wilayah Maluku masih terjadi, antara lain di Pegunungan Seram Utara, Tehoru, Tananahu, dan Air Louw. Persoalan tersebut mencakup pematokan kawasan, sengketa tanah masyarakat adat, hingga penguasaan ruang yang dinilai berpotensi mengabaikan hak masyarakat.

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

Komite Aksi Kamisan Ambon mengutip data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) yang mencatat 341 konflik agraria terjadi di 33 provinsi sepanjang 2025, berdampak terhadap sekitar 914.574 hektare lahan dan 123.612 keluarga.

Sementara itu, AMAN mencatat 26,2 juta hektare hutan berada dalam wilayah adat, dengan 7,3 juta hektare di antaranya mengalami tumpang tindih dengan konsesi.

Komite Aksi Kamisan Ambon juga menolak pendekatan militer dalam penyelesaian persoalan agraria.

Menurut mereka, perluasan peran militer dalam pengelolaan sumber daya alam dan urusan sipil berisiko mempersempit ruang demokrasi serta meningkatkan potensi intimidasi dan kekerasan terhadap masyarakat.

Pada momentum Hari Tani Nasional, Komite Aksi Kamisan Ambon turut mempertanyakan efektivitas UU Pengaturan Reforma Agraria yang disahkan DPR pada 22 September 2026.

Mereka menegaskan reforma agraria tidak cukup hanya melalui pembagian sertifikat, tetapi harus menyentuh ketimpangan penguasaan tanah, akses terhadap sumber penghidupan, serta kedaulatan masyarakat dalam menentukan masa depan ruang hidupnya.

Komite Aksi Kamisan Ambon kemudian menyerukan penghentian perampasan ruang hidup masyarakat adat dan petani, penghentian pematokan sepihak, penyelesaian konflik agraria struktural, penolakan militerisasi pengelolaan sumber daya alam, serta pelaksanaan reforma agraria yang mengakui wilayah adat dan memulihkan hak masyarakat.

 

Editor : Eston Halamury

Follow WhatsApp Channel maluku.newsline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Komisi III DPRD MBD Bahas Rekrutmen Tenaga Kerja Blok Masela dengan Disnakertrans Maluku
Mahasiswa MBD Gelar Demo di Kantor Gubernur dan DPRD Maluku, Ini Tuntutan Mereka
11 Paguyuban Mahasiswa MBD Kirim Surat Terbuka kepada Pemangku Kepentingan Blok Masela
Mahasiswa MBD Suarakan Keterlibatan Proyek Tenaga Kerja Lokal dalam Blok Masela, Akan Aksi Di Hari Senin
Narapolis Institute Soroti Gaya Komunikasi Abdullah Vanath: Dinilai Cari Sensasi, Playing Victim, dan Tak Hargai Legislatif
Keterlibatan Masyarakat MBD dalam Proyek Blok Masela Jadi Sorotan
Memetakan Suara, Tak Ada yang Tertinggal: Alhidayat Wajo Siapkan “Beta AW” sebagai Peta Aspirasi Warga Maluku
Gandeng IAKN Ambon, Narapolis Institute Konsisten Perangi Hoaks dan Dorong Nalar Muda di Era AI
Berita ini 63 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:29 WIT

Komisi III DPRD MBD Bahas Rekrutmen Tenaga Kerja Blok Masela dengan Disnakertrans Maluku

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:21 WIT

Mahasiswa MBD Gelar Demo di Kantor Gubernur dan DPRD Maluku, Ini Tuntutan Mereka

Minggu, 4 Oktober 2026 - 12:53 WIT

11 Paguyuban Mahasiswa MBD Kirim Surat Terbuka kepada Pemangku Kepentingan Blok Masela

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:06 WIT

Narapolis Institute Soroti Gaya Komunikasi Abdullah Vanath: Dinilai Cari Sensasi, Playing Victim, dan Tak Hargai Legislatif

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:02 WIT

Keterlibatan Masyarakat MBD dalam Proyek Blok Masela Jadi Sorotan

Berita Terbaru