Maluku Tengah | Maluku.Newsline.id — Sebuah rumah warga di Dusun Arara, Desa Wahai, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, dilaporkan hangus terbakar pada Senin malam (20/10/2025) sekitar pukul 19.30 WIT. Peristiwa tersebut menimbulkan kepanikan warga sekitar, sebab api dengan cepat melahap seluruh bangunan rumah yang terbuat dari kayu.
Menurut keterangan warga setempat, sumber api diduga kuat berasal dari korsleting listrik. Api mulai terlihat dari bagian depan rumah sebelum akhirnya merembet ke seluruh bagian bangunan. Kondisi cuaca yang berangin membuat kobaran api sulit dikendalikan oleh warga yang berusaha memadamkan dengan peralatan seadanya.
Pemilik rumah, Fadli Tomagola, mengaku peristiwa itu terjadi saat dirinya tidak berada di rumah. Ia bersama keluarga tengah menghadiri acara tahlilan di rumah tetangga ketika mendengar kabar bahwa rumahnya terbakar. “Katong (kami) lagi di hajatan orang tahlilan, tiba-tiba orang teriak ada kebakaran. Pas katong datang, rumah su abis terbakar,” ungkap Fadli dengan nada sedih saat dihubungi wartawan pada Jumat (24/10/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kebakaran tersebut menghanguskan seluruh isi rumah tanpa ada satu pun barang yang bisa diselamatkan. Api begitu cepat menjalar karena bahan bangunan sebagian besar dari kayu dan atap seng. Warga sekitar hanya bisa menyaksikan dari kejauhan karena api berkobar cukup besar sebelum akhirnya padam beberapa jam kemudian.
Dalam musibah itu, tidak ada korban jiwa, namun kerugian materi diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Sejumlah barang milik korban, seperti dua unit sepeda motor, satu generator, tiga mesin potong rumput, satu mesin ketinting, serta dokumen penting seperti ijazah dan surat berharga lainnya turut terbakar habis. “Pokoknya barang-barang samua abis, termasuk katong pung ijazah,” kata Fadli lirih.
Pasca kejadian, warga Dusun Arara berupaya memberikan bantuan sementara berupa pakaian dan makanan kepada keluarga korban. Namun, hingga kini belum ada bantuan resmi dari pihak pemerintah daerah maupun aparat negeri setempat. “Dari pemerintah belum ada. Pejabat Negeri Wahai cuma telfon bilang nanti ada bantuan, tapi sampe sekarang seng ada lai,” tambahnya.
Fadli berharap pemerintah dapat segera turun tangan memberikan bantuan nyata untuk meringankan beban keluarganya. Ia mengaku kini bersama keluarga terpaksa menumpang di rumah kerabat sambil menunggu kepastian bantuan. “Katong harap ada perhatian dari pemerintah. Katong seng ada lagi pung tempat tinggal,” ujarnya.
Warga sekitar juga menyampaikan harapan serupa agar pemerintah memberikan perhatian cepat kepada korban. Mereka menilai, bantuan darurat seperti tenda, bahan makanan, dan perlengkapan tidur sangat dibutuhkan mengingat kondisi korban yang kini kehilangan tempat tinggal.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pemerintah Negeri Wahai maupun Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah belum mengeluarkan keterangan resmi terkait rencana bantuan untuk korban kebakaran. Aparat desa masih melakukan pendataan terhadap barang-barang yang rusak dan menghitung perkiraan total kerugian.
Beberapa warga juga menyarankan agar pemerintah daerah memperhatikan sistem kelistrikan di wilayah mereka. Menurut warga, kasus korsleting listrik sering terjadi akibat instalasi kabel yang tidak standar dan tidak diawasi oleh pihak PLN atau teknisi resmi. “Kalau bisa pemerintah cek jaringan listrik di kampung-kampung, biar kejadian kayak begini seng terulang,” ujar salah satu warga.
Kebakaran rumah Fadli Tomagola menjadi pengingat penting bagi masyarakat tentang bahaya korsleting listrik di daerah pedesaan. Pemerintah diharapkan lebih aktif memberikan sosialisasi keamanan listrik serta bantuan alat proteksi sederhana untuk mencegah kebakaran di masa mendatang.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan menjadi perhatian masyarakat Seram Utara. Hingga kini, warga setempat masih bergotong royong membantu Fadli Tomagola dan keluarganya untuk bangkit kembali setelah kehilangan seluruh harta bendanya dalam kobaran api.










